Lawan Stigma PLS

Bukan hal yang aneh ketika semua orang berpikiran pendidikan akan menghasilkan pekerjaan. Orang kuliah selama lebih kurang 4,5 tahun hanya untuk mendapatkan tiket di tempat kerja yang bonafit tentunya…

Pendidikan tidak lagi memberikan semangat yang positif untuk memajukan diri sendiri dengan cara yang harus dan bisa dilakukan sendiri tanpa berharap dan berpangku tangan dari orang lain. Pendidikan Luar Sekolah seharusnya bisa lebih berperan dibandingkan dengan jurusan lain, karena PLS adalah sebuah jaringan yang luas yang saya sendiri tidak tahu betul seluas apakah pendidikan yang diajarkan PLS. Seakan mahasiswa PLS adalah “sapi perah” yang setiap saat dibutuhkan bisa dan siap membantu. PLS harus professional tidak saja selalu sosial yang dijadikan ujung tombak tetapi ada suatu nilai lebih yang bisa memandirikan anak didik (mahasiswa PLS) agar bisa berpeluang untuk maju.

“…mengasing masyarakat dari proses pengambilan keputusan sama dengan mengubah mereka menjadi obyek. Situasi apa pun di mana beberapa orang mencegah orang-orang lain untuk melakukan penyelidikan adalah juga suatu bentuk kekerasan.” (Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed – 19..)
Adalah pilihan sadar bahwa dalam segala ikhtiar multi dimensional untuk membantu, melindungi, dan membela mahasiswa PLS khususnya dari ketidakadilan peluang lulusan dan kompetensi yang “sebenanya,” problem posing, learning b doing, dan community based education sebagai suatu pendekatan yang harus diterapkan kepada mahasiswa PLS. Sampai saat ini hal tersebut selalu dilemparkan kepada masyarakat yang sebenarnya praktisi nya pun tidak paham betul…!

Ketika ada suatu komunitas yang bersedia dan siap untuk memperjuangkan hak-haknya harus kita sambut, terkait masalah individu yang rumit…ya itu urusan pribadi anda. yang jelas beranikan diri kita untuk bisa survive dengan ke-PLS-an nya.





Loading...
Subscribe to Comments RSS Feed in this post

One Response

  1. Adalah satu kewajaran belaka, manakala espektasi seseorang yg menyandang status sbg mhs, klg, dan lingkungan masyarakatnya menyorot tajam pd (1) Apa yg kamu peroleh selama belajar di kampus? (2) Apa yg bisa kamu berikan kpd klg dan masyarakatmu? dan (3) Pekerjaan apa yg bisa kamu tekuni sbg mata pencaharian bagi dirimu seklg skrg dan seterusnya nanti? Semuanya terpulang pd kehendak dan kemauan individu ybs. u/merubah nasib dirinya (juga orang lain). “Allah SWT, tdk akan merubah nasib seseorang, sblm orang tsb merubah nasib dirinya sendiri terlebih dahulu!” Merubah stigma yg selama ini tertanam kuat dlm paradigma masyarakat luas, bukanlah suatu kemustahilan, sebagaimana seorang Muh.Darwis (Ahmad Dahlan) memberikan pencerahan yg tematis, realis, dan filosofis dlm film “sang Pencerah”. Namun, itu sangatlah langka adanya. Satu berbanding Seribu. Sabda Kanjeng Rasul SAW, jadilah yg sedikit (asing), jangan menjadi yg banyak (populer), mengandung pengertian bahwa sunnatullah adanya, proses pembaharuan/pencerahan selalu mendapat tentangan dr kultur budaya yg mapan sebelumnya. Mengapa? Kenapa bersusah payah merubah nasib yg belum jelas (entrepreneurship), toh kita sudah nyaman dg kehidupan spt ini (PNS). Kendali ada di tangan Panjenengan sendiri, mana yg akan dipilih.. semua terpulang dr kecerdasan berpikir dan keberanian mengambil keputusan final, from zero to be hero..! Do it now my friends..!

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*