<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>IMADIKLUS &#187; Pendidikan masyarakat</title>
	<atom:link href="http://www.imadiklus.com/category/pendidikan-masyarakat/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.imadiklus.com</link>
	<description>IKATAN MAHASISWA PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 10:27:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>MK Antropologi Pendidikan</title>
		<link>http://www.imadiklus.com/2012/04/mk-antropologi-pendidikan-pendidikan-untuk-pulau-besar-dengan-penduduk-sedikit.html</link>
		<comments>http://www.imadiklus.com/2012/04/mk-antropologi-pendidikan-pendidikan-untuk-pulau-besar-dengan-penduduk-sedikit.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 14:44:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.imadiklus.com/?p=3023</guid>
		<description><![CDATA[&#160; PENDIDIKAN UNTUK PULAU BESAR DENGAN PENDUDUK SEDIKIT (Keadaan alam dan sistem pandidikan di pulau Nias) By: Fendik Setyawan A.   Pulau Besar dengan Penduduk Sedikit Perwuju dan kepulauan nusantara... <a class="meta-more" href="http://www.imadiklus.com/2012/04/mk-antropologi-pendidikan-pendidikan-untuk-pulau-besar-dengan-penduduk-sedikit.html">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">PENDIDIKAN UNTUK PULAU BESAR DENGAN PENDUDUK SEDIKIT</p>
<p style="text-align: justify;">(Keadaan alam dan sistem pandidikan di pulau Nias)</p>
<p style="text-align: justify;">By: Fendik Setyawan</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>A.   </strong><strong>Pulau Besar dengan Penduduk Sedikit</strong></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Perwuju dan kepulauan nusantara tidak lepas dari perkambangan masyarakat yang ada didalamnya atau bisa dikatakan masyarakat pedesaan. Pada tahun 1984, orang masih membuat perkiraan bahwa antara 80% &#8211; 85% masih bermukim di masyarakat pedesaan yang diantaranya masih merupakan daerah pedalaman/terpencil/sulit. Ini berarti bahwa sekitar 15-20% penduduk bermukim di kota. Kalau pengertian kota ini dipertajam, mungkin dapat menggambarkan sebagai berikut. Pada umumnya, yang disebut kota dalam tahap perkembangannya sekarang berbentuk ibukota :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Negara, dengan jumlah satu</li>
<li>Propinsi dengn jumlah sekitar dua puluh tujuh</li>
<li>Kabupaten/kotamadya, dengan jumlah sekitar tiga ratus</li>
<li>Kecamatan dengan jumlah sekitar tiga ribu lima ratus buah</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Dengan kata lain, jumlah kota besar dan kecil di Indonesia kira-kira berjumlah 3828 buah. Dan pulau besar dengan penduduk sedikit lebih cenderung pada masyarakat pedesaan. Walau begitu, perlu dicatat bahwa tidak semua ibukota kecamatan dalam kenyataannya pantas disebut kota kecil karena berbagai faktor masih wajar disebut desa. Desa dan karakteristiknya sebagai berikut :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Masyarakat Desa</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat desa adalah masyarakat yang kehidupannya masih banyak dikuasai oleh adat istiadat lama. Adat istiadat adalah sesuatu aturan yang sudah mantap dan mencakup segala konsepsi sistem budaya yang mengatur tindakan atau perbuatan manusia dalam kehidupan sosial hidup bersama, bekerja sama dan berhubungan erat secara tahan lama, dengan sifat-sifat yang hampir seragam. Secara umum desa memiliki 3 unsur yaitu :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Daerah dan letak dalam arti tanah yang meliputi luas, lokasi</li>
<li>Penduduknya dalam arti jumlah, struktur umur, mata pencaharian</li>
<li>Tata kehidupan dalam arti corak, pola tata pergaulan dan ikatan warga desa.</li>
<li>Ciri-Ciri Masyarakat Desa</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Adapun ciri yang menonjol pada masyarakat desa antara lain pada umumnya kehidupannya tergantung pada alam (bercocok tanam) anggotanya saling mengenal, sifat gotong royong erat penduduknya sedikit perbedaan penghayatan dalam kehidupan religi lebih kuat.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong><em>a.           </em></strong><strong><em>Lingkungan dan Orientasi Terhadap Alam</em></strong></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Desa berhubungan erat dengan alam, ini disebabkan oleh lokasi geografis di daerah desa petani, realitas alam ini sangat vital menunjang kehidupannya. Kepercayaan-kepercayaan dan hukum-hukum alam seperti dalam pola berfikir dan falsafah hidupnya menentuka</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>b.               </strong><strong><em>Dalam Segi Pekerjaan/Mata Pencaharian<br />
.antropologi pendidikan.artikel antropologi pendidikan.mata kuliah tsp uny.pendidikan bagi masyarakat pedesaan.pendidikan di pulau.<div class='wb_fb_comment'><br/></div><img src="http://www.imadiklus.com/?ak_action=api_record_view&id=3023&type=feed" alt=" MK Antropologi Pendidikan "  title="MK Antropologi Pendidikan " />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.imadiklus.com/2012/04/mk-antropologi-pendidikan-pendidikan-untuk-pulau-besar-dengan-penduduk-sedikit.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peranan Pendidikan Non Formal dalam Pendidikan Anak Usia Dini</title>
		<link>http://www.imadiklus.com/2011/11/peranan-pendidikan-non-formal-dalam-pendidikan-anak-usia-dini.html</link>
		<comments>http://www.imadiklus.com/2011/11/peranan-pendidikan-non-formal-dalam-pendidikan-anak-usia-dini.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 08:55:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Anak Usia Dini]]></category>
		<category><![CDATA[Peranan Pendidikan Non Formal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadiklus.com/?p=2755</guid>
		<description><![CDATA[Pengertian Pendidikan Non Formal Pendidikan nasional, sebagai salah satu sistem dari supra sistem pembangunan nasional, memiliki tiga subsistem pendidikan sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang Sisdiknas tahun 2003 yaitu pendidikan formal,... <a class="meta-more" href="http://www.imadiklus.com/2011/11/peranan-pendidikan-non-formal-dalam-pendidikan-anak-usia-dini.html">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pengertian Pendidikan Non Formal</p>
<p style="text-align: justify;">Pendidikan nasional, sebagai salah satu sistem dari supra sistem pembangunan nasional, memiliki tiga subsistem pendidikan sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang Sisdiknas tahun 2003 yaitu pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal. Pendidikan formal disebut juga pendidikan sekolah sedangkan pendidikan nonformal dan informal tercakup ke dalam pendidikan luar sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut pengertian Undang-undang Sisdiknas tahun 2003 pasal 1 ayat 12 “Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang  sedangkan ayat 13 menyatakan “Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan .</p>
<p style="text-align: justify;">Coombs (Trisnamansyah, 2003: 19) mendefinisikan nonformal education sebagai setiap kegiatan pendidikan yang diorganisasikan di luar sistem persekolahan yang mapan baik dilakukan secara terpisah atau sebagai bagian penting dari kegiatan yang lebih besar, dilakukan secara sengaja untuk melayani peserta didik tertentu guna mencapai tujuan belajarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudjana (2001: 63) pendidikan luar sekolah telah hadir di dunia ini sama tuanya dengan kehadiran manusia yang berinteraksi dengan lingkungan di muka bumi ini dimana situasi pendidikan ini muncul dalam kehidupan kelompok dan masyarakat. Kegiatan pendidikan dalam kelompok dan masyarakat telah dilakukan oleh umat manusia jauh sebelum pendidikan sekolah lahir di dalam kehidupan masyarakat. Pada waktu permulaan kehadirannya, pendidikan luar sekolah dipengaruhi oleh pendidikan informal, yaitu kegiatan yang terutama berlangsung dalam keluarga dimana terjadi interaksi di dalamnya berupa transmisi pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai, dan kebiasaan. Pada dasarnya kegiatan tersebut menjadi akar untuk tumbuhnya perbuatan mendidik yang dikenal dewasa ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perkembangan selanjutnya, kelompok-kelompok yang terdiri dari keluarga-keluarga mengadopsi pola transmisi tersebut ke dalam kehidupan kelompok seperti keterampilan bercocok tanam. Kegiatan belajar-membelajarkan tersebut yang dilakukan untuk melestarikan dan mewariskan kebudayaan secara turun temurun itulah yang termasuk ke dalam kategori pendidikan tradisional yang kemudian menjadi akar pertumbuhan pendidikan luar sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak awal kehadirannya di dunia ini, pendidikan luar sekolah telah berakar pada tradisi dan adat istiadat yang dianut oleh masyarakat yang mendorong penduduk untuk belajar, berusaha, dan bekerjasama atas dasar nilai-nilai budaya dan moral yang dianut oleh masyarakat tersebut. Hal ini biasanya terdapat dalam pepatah dan nasehat para orang tua yang intinya mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan belajar, berusaha, dan bekerjasama dalam masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Asas Pendidikan Sepanjang Hidup</p>
<p style="text-align: justify;">Pendidikan luar sekolah didasari oleh empat asas yaitu asas kebutuhan, asas pendidikan sepanjang hayat, asas relevansi dengan pembangunan masyarakat, dan asas wawasan ke masa depan. Dalam hal ini perhatian lebih ditujukan pada asas pendidikan sepanjang hayat yang relevan dengan topik yang sedang dibahas. Hawes, (Trisnamansyah, 2003: 7) mengemukakan dua puluh karakteristik pendidikan sepanjang hayat, antara lain:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Pendidikan sepanjang hayat tidak hanya terbatas pada pendidikan orang dewasa tapi juga meliputi serta menyatukan semua tingkat pendidikan prasekolah, SD, SLTP dan seterusnya. Ini merupakan pandangan pendidikan secara menyeluruh.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan karakteristik di atas maka pendidikan prasekolah telah diakui sebagai bagian dari pendidikan sepanjang hayat. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Worth, W.H. (Cropley, 1999: 43) yang mengemukakan bahwa pendidikan tidak boleh menolak anak di bawah umur enam tahun dan menganjurkan pendidikan anak-anak awal yang disebutnya “Early Ed. Tiga tujuan pokok “Early Ed , yang meliputi perlengkapan stimulasi, membantu pemahaman identitas, dan menciptakan pengalaman sosialisasi yang tepat. Aspek terpenting anjuran Worth ialah pendidikan anak usia dini sebagai fase pertama sistem pendidikan seumur hidup. Ia menyarankan bahwa tujuannya harus memuat pengembangan keterampilan untuk mendayagunakan informasi dan simbol-simbol, meningkatkan apresiasi bermacam-macam mode ekspresi diri, memelihara keinginan dan kemampuan berpikir, menanamkan keyakinan setiap anak tentang kemampuannya untuk belajar, membantu perasaan harga diri, dan akhirnya, meningkatkan kemampuan untuk hidup dengan orang lain. Worth melihat pendidikan anak usia dini meliputi variable yang kompleks dalam bidang kognitif, motivasi dan sosio affektif yang jika berkembang dengan tepat akan menjadi basis pemenuhan diri dalam kehidupan. Dengan demikian Worth mengakui pentingnya pendidikan anak-anak usia prasekolah sebagai salah satu fase pendidikan seumur hidup.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Rumah memegang peranan pertama, tajam dan penting dalam memulai proses belajar sepanjang hayat yang terus berlanjut sepanjang kehidupan individu melalui proses belajar keluarga. Dalam keluargalah anak pertama kali mendapatkan pengalaman belajarnya dimana diketahui bersama bahwa keluarga merupakan tempat belajar di luar sekolah. Di dalam kehidupan keluarga ini terjadi interaksi, di dalamnya berupa transmisi pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai, dan kebiasaan. Pada dasarnya kegiatan tersebut menjadi akar untuk tumbuhnya perbuatan mendidik yang dikenal dewasa ini (Sudjana, 2001: 63).</p>
<p style="text-align: justify;">3. Pendidikan Luar Sekolah Dalam Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak<br />
Undang-undang Sisdiknas tahun 2003 pasal 28 menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal (Taman Kanak-kanak, Raudatul Athfal, atau bentuk lain yang sederajat), jalur pendidikan nonformal (Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak, atau bentuk lain yang sederajat), dan/atau jalur pendidikan informal yang berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu sudah sewajarnya bila peran Pendidikan Luar Sekolah yang mencakup pendidikan nonformal dan informal dalam memberikan pelayanan pendidikan dini kepada anak-anak yang tak memperoleh pendidikan di jalur pendidikan formal.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendidikan Anak Usia Dini</p>
<p style="text-align: justify;">Anak usia dini sebagaimana yang termaktub dalam Undang-undang Sisdiknas tahun 2003 pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa: “Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut . Batasan lain mengenai usia dini pada anak berdasarkan psikologi perkembangan yaitu antara usia 0 8 tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Di samping istilah pendidikan anak usia dini terdapat pula terminologi pengembangan anak usia dini yaitu upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan atau pemerintah untuk membantu anak usia dini dalam mengembangkan potensinya secara holistik baik aspek pendidikan, gizi maupun kesehatan (Direktorat PADU, 2002:3).</p>
<p style="text-align: justify;">Pertumbuhan sering dikaitkan dengan kata perkembangan sehingga ada istilah tumbuh kembang. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pertumbuhan merupakan bagian dari perkembangan. Namun sebenarnya pertumbuhan dan perkembangan adalah dua hal yang berbeda. Pertumbuhan adalah perubahan ukuran dan bentuk tubuh atau anggota tubuh, misalnya bertambah berat badan, bertambah tinggi badan, bertambah lingkaran kepala, bertambah lingkar lengan, tumbuh gigi susu, dan perubahan tubuh yang lainnya yang biasa disebut pertumbuhan fisik. Pertumbuhan dapat dengan mudah diamati melalui penimbangan berat badan atau pengukuran tinggi badan anak. Pemantauan pertumbuhan anak dilakukan secara terus menerus dan teratur.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun perkembangan adalah perubahan mental yang berlangsung secara bertahap dan dalam waktu tertentu, dari kemampuan yang sederhana menjadi kemampuan yang lebih sulit, misalnya kecerdasan, sikap, tingkah laku, dan sebagainya. Proses perubahan mental ini juga melalui tahap pematangan terlebih dahulu. Bila saat kematangan belum tiba maka anak sebaiknya tidak dipaksa untuk meningkat ke tahap berikutnya misalnya kemampuan duduk atau berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertumbuhan dan perkembangan masing-masing anak berbeda, ada yang cepat dan ada yang lambat, tergantung faktor bakat (genetik), lingkungan (gizi dan cara perawatan kesehatan), dan konvergensi (perpaduan antara bakat dan lingkungan). Oleh sebab itu perlakuan terhadap anak tidak dapat disamaratakan, sebaiknya dengan mempertimbangkan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak (Diktentis Diklusepa, 2003:8).</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat anak dilahirkan ia sudah dibekali tuhan dengan struktur otak yang lengkap, namun baru mencapai kematangannya pada saat setelah di luar kandungan. Bayi yang baru dilahirkan memiliki 100 miliar neuron dan bertriliun-triliun sambungan antar neuron. Melalui persaingan alami akhirnya sambungan-sambungan yang tidak atau jarang digunakan akan mengalami atrofi. Pemantapan sambungan terjadi apabila neuron mendapatkan informasi yang mampu menghasilkan letupan-letupan listrik. Letupan tersebut merangsang bertambahnya produksi myelin yang dihasilkan oleh zat perekat glial. Semakin banyaknya zat myelin yang diproduksi maka semakin banyak dendrit-dendrit yang tumbuh, sehingga akan semakin banyak synapse yang berarti lebih banyak neuron-neuron yang menyatu membentuk unit-unit. Kualitas kemampuan otak dalam menyerap dan mengolah informasi tergantung dari banyaknya neuron yang membentuk unit-unit. Otak manusia bersifat hologram yang dapat mencatat, menyerap, menyimpan, mereproduksi dan merekonstruksi informasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemampuan otak yang dipengaruhi oleh kegiatan neuron ini tidak bersifat spontan, tetapi dipengaruhi oleh mutu dan frekuensi stimulasi yang diterima indra. Stimulasi pada tahun-tahun pertama kehidupan anak sangat mempengaruhi struktur fisik otak anak, dan hal tersebut sulit diperbaiki pada masa-masa kehidupan selanjutnya. Implikasinya adalah bahwa anak yang tidak mendapatkan stimulasi psikososial seperti jarang disentuh atau jarang diajak bermain akan mengalami berbagai penyimpangan perilaku. Penyimpangan tersebut dalam bentuk hilangnya citra diri yang berakibat pada rendah diri, sangat penakut, dan tidak mandiri, atau sebaliknya menjadi anak yang tidak memiliki rasa malu dan terlalu agresif.</p>
<p style="text-align: justify;">Stimulasi psikososial untuk merangsang pertumbuhan anak tidak akan memberikan arti bagi masa depan anak jika derajat kesehatan dan gizi anak tidak menguntungkan. Pertumbuhan otak anak ditentukan oleh bagaimana cara pengasuhan dan pemberian makan serta stimulasi anak pada usia dini yang sering disebut critical period ini. Gizi yang tidak seimbang maupun gizi buruk serta derajat kesehatan anak yang rendah akan menghambat pertumbuhan otak, dan pada gilirannya akan menurunkan kemampuan otak dalam mencatat, menyerap, mereproduksi dan merekonstruksi informasi. Di samping itu, rendahnya derajat kesehatan dan gizi anak akan menghambat pertumbuhan fisik dan motorik anak yang juga berlangsung sangat cepat pada tahun-tahun pertama kehidupan anak. Gangguan yang terjadi pada pertumbuhan fisik dan motorik anak, sulit diperbaiki pada periode berikutnya, bahkan dapat mengakibatkan cacat yang permanen (Dirjen Diklusepa, Depdiknas: 2002).</p>
<p style="text-align: justify;">Konsep di atas menuntut adanya pengintegrasian aspek psiko-sosial/pendidikan, gizi dan kesehatan dalam proses tumbuh kembang anak atau dengan kata lain anak mendapatkan layanan dasar secara holistik.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perkembangan anak, pada saat-saat tertentu dapat terjadi kemandegan tugas-tugas perkembangan (discontinuity), misalnya karena sakit, namun setelah masa ini berlalu ada tugas perkembangan yang bisa dikejar dan ada pula yang tidak bisa dikejar sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Peranan Pendidikan Luar Sekolah</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan data sensus penduduk tahun 2000 menunjukkan bahwa dari jumlah 26,09 juta anak usia 0-6 tahun, sebagian besar (sekitar 17, 99 juta anak atau 68,9%) belum terlayani dalam pendidikan prasekolah. Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal hanya mampu melayani sekitar 2 (dua) juta anak dari 12,6 juta anak usia 4-6 tahun yang ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkenaan dengan hal tersebut di atas maka sewajarnya bila peran Pendidikan Luar Sekolah yang mencakup pendidikan nonformal dan informal   dalam memberikan pelayanan pendidikan dini pada anak-anak yang tak memperoleh pendidikan di jalur pendidikan formal sangatlah penting dan mendesak. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang diselenggarakan pendidikan luar sekolah berupa kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan pendidikan anak usia dini yang sejenis.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelompok bermain adalah salah satu bentuk layanan PAUD bagi anak usia tiga   enam tahun, yang berfungsi untuk meletakkan dasar-dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan bagi anak usia dini dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya, sehingga siap memasuki pendidikan dasar.</p>
<p style="text-align: justify;">Taman Penitipan Anak adalah wahana pendidikan dan pembinaan kesejahteraan anak yang berfungsi sebagai pengganti keluarga untuk jangka waktu tertentu selama orangtuanya berhalangan atau tidak memiliki waktu yang cukup dalam menagsuh anaknya karena bekerja atau sebab lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Satuan PAUD sejenis merupakan bentuk-bentuk layanan PAUD lainnya yang tidak diselenggarakan dalam bentuk taman penitipan anak ataupun kelompok bermain. Satuan PAUD sejenis dapat berbentuk: PAUD dalam keluarga dan berbagai layanan pendidikan lainnya, baik yang bersifat khusus maupun umum yang diselenggarakan bagi anak usia dini.</p>
<p style="text-align: justify;">PAUD Terintegrasi Posyandu atau Pospadu adalah pengembangan dari satuan PAUD sejenis, yang merupakan upaya pendidikan bagi anak usia dini yang dilaksanakan dengan mengintegrasikan pendidikan dengan program posyandu, sehingga anak memperoleh layanan dasar secara holistik/menyeluruh yang mencakup layanan gizi, kesehatan, dan pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Peranan dan Pemberdayaan Masyarakat</p>
<p style="text-align: justify;">Kenyataan bahwa masih banyak anak usia dini yang belum mendapatkan pelayanan pendidikan tak dapat dipungkiri, terlebih bagi masyarakat kelas bawah yang merupakan sebagian besar penduduk Indonesia yang berada di pedesaan. Hal itu disebabkan antara lain kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi anak usia dini masih sangat rendah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi dan kesehatan untuk peningkatan kualitas anak, nampaknya jauh lebih baik daripada kesadaran akan pentingnya pendidikan. Hasil penelitian Meneg Pemberdayaan Perempuan tahun 2001 di wilayah Jakarta dan sekitarnya seperti yang dilansir oleh Yayasan Kita dan Buah Hati (Jalal, 2002: 13) menyebutkan bahwa pada umumnya masyarakat memandang belum perlu pendidikan diberikan kepada anak usia dini. Hal ini sangat wajar mengingat bahwa pemahaman masyarakat terhadap pentingnya PAUD masih sangat rendah serta pada umumnya mereka berpandangan bahwa pendidikan identik dengan sekolah, sehingga bagi anak usia dini pendidikan dipandang belum perlu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih jauh Hadis (2002: 25) mengemukakan ada beberapa faktor yang menjadikan penyebab masih rendahnya kesadaran masyarakat di bidang pendidikan anak usia dini seperti: ketidaktahuan, kemiskinan, kurang berpendidikan, gagasan orangtua tentang perkembangan anak yang masih sangat tradisional, kurang mau berubah, masih sangat konkret dalam berpikir, motivasi yang rendah karena kebutuhan yang masih sangat mendasar (untuk survival), serta masih sangat dipengaruhi oleh budaya setempat yang sempit.</p>
<p style="text-align: justify;">Rendahnya tingkat partisipasi anak mengikuti pendidikan prasekolah dapat juga dipengaruhi oleh beberapa hal lainnya seperti: (1) Masih terbatas dan tidak meratanya lembaga layanan PAUD yang ada di masyarakat terutama di pedesaan. Sebagai contoh pertumbuhan TK, KB/RA, dan TPA di perkotaan lebih pesat dibandingkan di pedesaan; (2) Rendahnya dukungan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini. Fakta menunjukkan (Rosadi, 2002) dari 41.317 buah TK di seluruh Indonesia, 41.092 buah (99.46%) didirikan oleh pihak swasta sedangkan pemerintah hanya mendirikan 225 buah (0.54%). Jumlah TK tersebut tidaklah berimbang dengan jumlah anak yang seharusnya mengikuti pendidikan dini.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang berhasilnya PAUD merupakan tanggung jawab pemerintah bersama masyarakat terutama keluarga yang merupakan penanggungjawab utama dalam optimalisasi tumbuh kembang anak. Peran pemerintah adalah memfasilitasi masyarakat agar mereka dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Upaya pemerintah untuk memfasilitasi masyarakat antara lain melalui standarisasi kurikulum guna membantu masyarakat mengontrol penyelenggaraan pendidikan agar tidak merugikan peserta didik maupun masyarakat, peningkatan kemampuan profesi dan akademik bagi tenaga kependidikan, peningkatan fungsi keluarga sebagai basis pendidikan anak, serta pengembangan manajemen pembelajaran yang mencakup pengembangan metodologi pembelajaran, pengembangan sarana dan bahan belajar termasuk bacaan anak, pengembangan permainan dan alat permainan serta pengembangan evaluasi tumbuh kembang anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam rangka memberikan perhatian secara khusus terhadap anak usia dini yang tidak terlayani pada lembaga formal (TK/RA) maka dibentuklah Direktorat PADU di lingkungan Depdiknas. Kehadiran direktorat ini terutama untuk memberikan layanan, bimbingan dan atau bantuan teknis edukatif yang tepat terhadap semua layanan anak usia dini (di luar TK dan RA) yang ada di masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat itu sendiri juga perlu meningkatkan peran sertanya secara aktif dalam pelaksanaan, pembinaan, dan pelembagaan pembinaan anak. Untuk itu pemerintah perlu memberdayakan peranserta masyarakat sebagai upaya menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan masyarakat, dengan cara mengembangkan segala potensi yang dimiliki agar masyarakat memiliki kemampuan sendiri dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan. Dalam kondisi seperti ini, sinergi antara pemerintah dengan masyarakat sangat diperlukan. Perlu pula diingat bahwa kebanyakan program PAUD masih berjalan sendiri-sendiri, tidak ada sinergi antar program yang ada di masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sinergi berbagai unsur yang berkepentingan dalam pembinaan anak merupakan kunci keberhasilan upaya pembinaan anak. Pemerintah harus memperluas jaringan kemitraan. Jaringan kemitraan merupakan kunci efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan program pendidikan, dimana selama ini tumpang tindih program termasuk pembinaannya, merupakan kesalahan sebagai akibat tidak berjalannya jaringan kemitraan termasuk koordinasi sebagai salah satu komponennya. Di samping itu adanya jaringan kemitraan yang luas di setiap tingkatan institusi masyarakat, mulai dari pusat sampai grass-root, merupakan jawaban atas keberlangsungan suatu program di masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Program yang mempunyai jaringan kemitraan memiliki ciri-ciri antara lain tingginya komitmen semua unsur yang terlibat dan tingginya rasa memiliki masyarakat terhadap program yang ada. Kedua ciri ini merupakan komponen terpenting untuk menjamin keberlangsungan suatu program yang pada gilirannya mengarah pada pelembagaan program di masyarakat. Perluasan jaringan kemitraan agar efektif hendaknya diarahkan pada penciptaan situasi kondusif yang menumbuh kembangkan komitmen semua unsur dan kepemilikan oleh masyarakat terhadap suatu program.</p>
<p style="text-align: justify;">Peranan Keluarga dan Lingkungan</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi anak usia dini, orangtua merupakan guru yang terpenting dan rumah tangga merupakan lingkungan belajar utamanya. Harus diingat bahwa fungsi PAUD bukan sekedar untuk memberikan berbagai pengetahuan kepada anak melainkan yang tidak kalah pentingnya adalah untuk mengajak anak berpikir, bereksplorasi, bergaul, berekspresi, berimajinasi tentang berbagai hal yang dapat merangsang pertumbuhan sinaps baru dan memperkuat yang telah ada serta menyeimbangkan berfungsinya kedua belahan otak (Jalal, 2002: 15). Oleh karena itu lingkungan yang baik untuk PAUD adalah lingkungan yang mendukung anak melakukan kegiatan tersebut. Selama ini ada anggapan bahwa lingkungan yang baik adalah ruangan yang berdinding putih, bersih, dan tenang. Sebuah anggapan yang keliru karena ruangan tanpa rangsangan semacam itu justru menghambat perkembangan anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang benar bahwa faktor bawaan juga berpengaruh terhadap kecerdasan seseorang tetapi pengaruh lingkungan juga merupakan faktor yang tidak kalah pentingnya. Jika faktor bawaan dimisalkan sebagai dasar maka faktor lingkungan merupakan pengembangannya. Tanpa diperkaya oleh lingkungan, modal dasar tersebut tidak akan berkembang bahkan bisa jadi menyusut.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika orangtua karena satu dan lain hal tidak melaksanakan fungsinya sebagai pendidik, fungsi ini dapat dialihkan (sebagian) kepada pengasuh, lembaga pendidikan/penitipan anak, lingkungan atau siapa saja yang mampu berperan sebagai pengganti. Peran pengganti ini dapat dilakukan baik di lingkungan keluarganya (pengasuh) atau di luar lingkungan keluarga (KB, TPA &amp; lembaga PAUD sejenis).</p>
<p style="text-align: justify;">Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak adalah sangat penting. Pengaturan lingkungan yang membuat anak dapat bergerak bebas dan aman untuk bereksplorasi merupakan kondisi yang sangat baik bagi perkembangan anak, anak dapat meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas serta diperolehnya pengalaman-pengalaman baru.</p>
.pengertian pendidikan non formal.urgensi perkembangan peserta didik dalam pembelajaran paud di sekolah.pengertian pendidikan anak usia dini dalam keluarga.pengertian pendidikan anak usia dini non formal dan in formal.pengertian pendidikan formal anak usia dini.pengertian pendidikan formal non formal informal menurut uu sisdiknas.pengertian pendidikan nonformal.peran kesehatan dalam pendidikan anak usia dini.peran pendidikan.Peranan Keluarga dan Lingkungan bagi pendidikan anak usia dini.<div class='wb_fb_comment'><br/></div><img src="http://www.imadiklus.com/?ak_action=api_record_view&id=2755&type=feed" alt=" Peranan Pendidikan Non Formal dalam Pendidikan Anak Usia Dini"  title="Peranan Pendidikan Non Formal dalam Pendidikan Anak Usia Dini" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.imadiklus.com/2011/11/peranan-pendidikan-non-formal-dalam-pendidikan-anak-usia-dini.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KESALAHAN ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAK</title>
		<link>http://www.imadiklus.com/2011/11/kesalahan-orang-tua-dalam-mendidik-anak.html</link>
		<comments>http://www.imadiklus.com/2011/11/kesalahan-orang-tua-dalam-mendidik-anak.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 03:08:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadiklus.com/?p=2751</guid>
		<description><![CDATA[KESALAHAN ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAK Keluarga (disamping sekolah dan masyarakat) memegang peranan penting dalam pendidikan anak. Karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh... <a class="meta-more" href="http://www.imadiklus.com/2011/11/kesalahan-orang-tua-dalam-mendidik-anak.html">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>KESALAHAN ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAK</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Keluarga (disamping sekolah dan masyarakat) memegang peranan penting dalam pendidikan anak. Karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam fase pertumbuhannya, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupannya (usia pra-sekolah). Pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sesudahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Para ulama Islam banyak memberikan perhatian dan membahas tentang pentingnya pendidikan melalui keluarga. Syaikh Abu Hamid Al Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orangtua dalam pendidikan anak mengatakan: &#8220;Ketahuilah, bahwa anak merupakan amanat bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya. Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan, dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dan akhirat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tetapi, jika dibiasakan dengan kejelekan dan dibiarkan tidak didik sebagaimana binatang ternak, niscaya dia akan menjadi jahat dan binasa&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam melaksanakan tugas mendidik anak, orang tua harus membekali dirinya dengan pengetahuan dan kearifan. Hal ini dibutuhkan untuk menghindari kesalahan dan penyimpangan dalam melaksanakan tugas mulia tersebut. Berikut ini sebagian kesalahan yang sering dilakukan oleh para orang tua dalam mendidik anak-anaknya :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Ucapan orang tua tidak sesuai dengan perbuatan</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Ini merupakan kesalahan terpenting, karena anak belajar dari orang tua banyak hal, tetapi ternyata sering bertentangan dengan apa yang telah diajarkannya. Tindakan ini berpengaruh buruk terhadap mental dan perilaku anak.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Kedua orang tua tidak sepakat atas cara tertentu dalam pendidikan anak</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Kadangkala seorang anak melakukan perbuatan tertentu dihadapan kedua orang tuanya, pada saat itu sang ibu memuji dan mendorong sedang sang bapak memperingatkan dan mengancam. Anak akhirnya menjadi bingung, mana yang benar dan mana yang salah di antara keduanya. Hal ini sangat berbahaya, karena akan mengakibatkan anak menjadi bimbang dan segala urusan tidak jelas baginya.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Membiarkan anak menjadi korban televise</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Media massa mempunyai pengaruh yang besar sekali dalam perilaku dan perbuatan anak, dan media yang paling berbahaya adalah televisi. Hampir tidak ada rumah yang tidak mempunyai televisi. Padahal pengaruhnya demikian luas terhadap anak maupun orang dewasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang tua yang tidak menaruh perhatian bahwa anak mereka kecanduan menonton televisi. Padahal ini sangat berpengaruh terhadap akhlak, fitrah, dan pendidikan mereka. Plomery, seorang peneliti mengatakan: &#8220;Anak pada umumnya, dan kebanyakan orang dewasa, cenderung menerima, tanpa mempertanyakan , segala informasi yang tampil di film-film dan kelihatan realistis. Mereka dapat mengingat materinya dengan cara yang lebih baik maka akal pikiran mereka menelan begitu saja nilai-nilai yang rendah itu. Oleh karena itu, anak-anak harus dilindungi dan diawasi dari perangkat yang dapat merusak ini.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak kepada pembantu atau pengasuh</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Kesalahan yang amat serius dan banyak terjadi di masyarakat kita adalah fenomena kesibukan ibu dari peran utamanya merawat rumah dan anak-anak dengan hal-hal yang tentunya tak kalah penting dari pendidikan anak. Misal, sibuk dengan karir di luar rumah,   sering mengadakan kunjungan, menghadiri pertemuan, atau hanya karena malas-malasan dan tidak mau menangani langsung urusan anak dan menyerahkan anak dalam perawatan wanita lain seperti pembantu, atau membawanya ke tempat pengasuhan. Akibatnya anak akan kehilangan kasih sayang ibu yang sangat dibutuhkannya. Hal ini berbahaya sekali terhadap kejiwaan anak dan masa depannya, karena anak berkembang tanpa kasih sayang. Jika anak miskin kasih sayang, ia pun akan bertindak keras terhadap anggota masyarakatnya, akibatnya masyarakat hidup dalam kekacauan, keretakan, dan kekerasan.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Orang tua menampakkan kelemahannya dalam mendidik anak</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Hal ini banyak terjadi pada ibu-ibu dan kadangkala terjadi pada bapak-bapak. Kita dapatkan, misalnya, seorang ibu berkata: &#8220;Anak ini mengesalkan. Aku tidak sanggup menghadapinya. Aku tak tahu, apa yang harus aku perbuat dengannya&#8221;. Padahal saat itu anak mendengarkan ucapan tersebut, maka anak pun merasa bangga dapat mengganggu ibunya dan membandel karena dapat menunjukkan keberadaannya dengan cara ini.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Berusaha mengekang anak secara berlebihan</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Sebagian orang tua tidak memberi kesempatan bermain, bercanda dan bergerak kepada anak. Ini bertentangan dengan tabiat anak dan bisa membahayakan kesehatannya, karena permainan penting bagi pertumbuhan anak. Permainan di tempat yang bebas dan luas termasuk faktor terpenting yang membantu pertumbuhan fisik anak dan menjaga kesehatannya. Maka seharusnya orang tua tidak mencegah anak-anak yang sedang bermain pasir ketika wisata ke tepi pantai atau di tengah padang pasir, karena itu merupakan waktu bersenang-senang dan bermain bagi mereka, bukan waktu untuk berdisiplin.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Mendidik anak tidak percaya diri dan merendahkan pribadinya</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Hal ini banyak terjadi di kalangan bapak-bapak padahal ini berpengaruh jelek terhadap masa depan anak dan pandangannya terhadap kehidupan. Karena anak yang terdidik rendah pribadi dan tidak percaya diri akan tumbuh jadi penakut, lemah dan tidak mampu menghadapi beban dan tantangan hidup, bahkan sampai ia menjadi dewasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, seyogianya anak-anak dipersiapkan untuk dapat melaksanakan tugas agama dan dunia. Dan hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan mendidik mereka untuk memiliki rasa percaya dan harga diri, namun tidak sombong dan takabur; serta senantiasa diupayakan agar anak dikenalkan pada hal-hal yang bernilai tinggi dan dijauhkan dari hal-hal yang bernilai rendah.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: right;">Kiriman tulisan   oleh <a href="http://www.facebook.com/fendik.setyawan">Fendik</a> Universitas Negeri Malang (UM)</p>
.kesalahan orang tua dalam mendidik anak.kesalahan orang tua dalam mendidik.kesalahan orangtua dalam mendidik anak.<div class='wb_fb_comment'><br/></div><img src="http://www.imadiklus.com/?ak_action=api_record_view&id=2751&type=feed" alt=" KESALAHAN ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAK"  title="KESALAHAN ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAK" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.imadiklus.com/2011/11/kesalahan-orang-tua-dalam-mendidik-anak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengembangan Keputusan Subjektif dan Objektif</title>
		<link>http://www.imadiklus.com/2011/11/pengembangan-keputusan-subjektif-dan-objektif.html</link>
		<comments>http://www.imadiklus.com/2011/11/pengembangan-keputusan-subjektif-dan-objektif.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 02:56:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadiklus.com/?p=2748</guid>
		<description><![CDATA[TOTAL QUALITY MANAGEMEN (TQM) Pengembangan Keputusan Subjektif dan Objektif   Pendekatan yang digunakan manager TQM mengandung du karakteristik yaitu objektif dan subjektif, tapi sasarannya adalah meminimumkan subjektifitas dan memaksimumkan objektifitas.... <a class="meta-more" href="http://www.imadiklus.com/2011/11/pengembangan-keputusan-subjektif-dan-objektif.html">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;" align="center"><strong>TOTAL QUALITY MANAGEMEN (TQM)</strong></p>
<p style="text-align: justify;" align="center"><strong>Pengembangan Keputusan Subjektif dan Objektif</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>  </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pendekatan yang digunakan manager TQM mengandung du karakteristik yaitu objektif dan subjektif, tapi sasarannya adalah meminimumkan subjektifitas dan memaksimumkan objektifitas.   Dengan demikian pendekatan yang baik dan sesuai dalam menghasilkan keputusan berkualitas adalah menggunakan pendekatan objektif.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Pengambilan keputusan objektif</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Pendekatan objektif bersifat logis dan sistematis. Pendekatan ini dilakukan langkah demi langkah (step by step). Asumsi dalam pendekatan ini :</p>
<p style="text-align: justify;"> ¨               Manajer memiliki waktu untuk mengikuti setiap langkah dalam proses pengambilan keputusan secara sistematis.</p>
<p style="text-align: justify;"> ¨               Tersedia informasi lengkap dan akurat</p>
<p style="text-align: justify;"> ¨               Manajer memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan yang dianggap baik.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Pengambilan keputusan subjektif</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Pengambilan keputusan subjekti didasarkan pada intuisi, pengalaman, dan informasi yang tidak lengkap. Asumsi dalam pendekatan ini adalah bahwa pengambilan keputusan berada dibawah tekanan, terbatas waktunya, dan beroperasi dengan informasi yang terbatas. Sasaran pengambilan keputusan subjektif adalah mengambil keputusan terbaik dalam keadaan yang serba terbatas.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Metode Pemecahan dan Pencegahan Timbulnya Masalah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Masalah adalah setiap situasi dimana apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapakan. Pemecahan masalah dalam konteks TQM lebih meningkatkan perbaikan berkesinambungan dilingkungan kerja sehingga dapat mencegah timbulnya masalah. Dalam hal ini ada dua model untuk pemecahan masalah yang sekaligus mengarah pada perbaikan yang berkesinambungan. Dua model tersebut yaitu :</p>
<p style="text-align: justify;">Download dan baca selangkapnya   Note: There is a file embedded within this post, please visit this post to download the file.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: right;">Kiriman tulisan   oleh <a href="http://www.facebook.com/fendik.setyawan">Fendik</a> Universitas Negeri Malang (UM)</p>
.keputusan secara sistematis.objektif membuat keputusan.<div class='wb_fb_comment'><br/></div><img src="http://www.imadiklus.com/?ak_action=api_record_view&id=2748&type=feed" alt=" Pengembangan Keputusan Subjektif dan Objektif"  title="Pengembangan Keputusan Subjektif dan Objektif" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.imadiklus.com/2011/11/pengembangan-keputusan-subjektif-dan-objektif.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PEMBELAJARAN KEAKSARAAN FUNGSIONAL (KF) DAN KECAKAPAN HIDUP WARGA BELAJAR</title>
		<link>http://www.imadiklus.com/2011/03/pembelajaran-keaksaraan-fungsional-kf-dan-kecakapan-hidup-warga-belajar.html</link>
		<comments>http://www.imadiklus.com/2011/03/pembelajaran-keaksaraan-fungsional-kf-dan-kecakapan-hidup-warga-belajar.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Mar 2011 05:41:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aqil Main Hati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita PLS]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Life Skills]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Keaksaraan Fungsional]]></category>
		<category><![CDATA[KF]]></category>
		<category><![CDATA[PEMBELAJARAN KF]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadiklus.com/?p=2547</guid>
		<description><![CDATA[PEMBELAJARAN KEAKSARAAN FUNGSIONAL (KF) DAN KECAKAPAN HIDUP WARGA BELAJAR DI DESA KEDUNGJATI KECAMATAN KEDUNGJATI KABUPATEN GROBOGAN Akhmad aqil Aziz, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang Abstrak... <a class="meta-more" href="http://www.imadiklus.com/2011/03/pembelajaran-keaksaraan-fungsional-kf-dan-kecakapan-hidup-warga-belajar.html">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>PEMBELAJARAN KEAKSARAAN FUNGSIONAL (KF) DAN KECAKAPAN HIDUP WARGA BELAJAR DI DESA KEDUNGJATI KECAMATAN KEDUNGJATI KABUPATEN GROBOGAN</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong>Akhmad aqil Aziz, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah</strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong>Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang</strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em> </em></strong><strong><em>Abstrak</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em><a href="http://imadiklus.com/wp-content/uploads/2011/03/Akhmad-aqil-Aziz.imadiklus.jpg"><img class="size-full wp-image-2548 alignleft" title="Akhmad aqil Aziz.imadiklus" src="http://imadiklus.com/wp-content/uploads/2011/03/Akhmad-aqil-Aziz.imadiklus.jpg" alt="Akhmad aqil Aziz.imadiklus PEMBELAJARAN KEAKSARAAN FUNGSIONAL (KF) DAN KECAKAPAN HIDUP WARGA BELAJAR" width="134" height="171" /></a></em>Pada tahun 2007 di Kabupaten Grobogan terdapat 12.334 jiwa dengan rincian 3.755 laki-laki dan 8.679 perempuan. Tahun 2008 sasaran target penyandang buta aksara sebanyak 580 jiwa dengan rincian 51 kelompok yang terdiri dari pembinaan 15 kelompok dan pemberantasan 14 kelompok. Akan tetapi ketika pada awal tahun 2008 dilakukan pendataan, ternyata masih ditemukan penduduk buta aksara khususnya di desa kedungjati. Artinya, masih terdapat jumlah penyandang buta aksara di Indonesia. Penyebab tingginya buta aksara di Indonesia adalah kemiskinan dan pengangguran. Oleh sebab itu, dibutuhkan strategi dalam rangka penuntasan buta aksara tersebut. Salah satu strategi yang dimaksud adalah dengan program kecakapan hidup. Dalam hal ini, pembelajaran Keaksaraan Fungsional sebagai salah satu upaya pendukung rencana strategi penurunan angka buta aksara. Pada dasarnya penelitian ini mempunyai rentangan masalah yang cukup luas. Keluasaan tampak pada masalah yang berkaitan dengan proses dan hasil belajar keaksaraan fungsional. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah pembelajaran keaksaraan fungsional meningkatkan kecakapan hidup warga belajar dan apakah hasil pembelajaran keaksaraan fungsional mengubah sikap camat pada pelaksanaan program PBA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: Pengaruh pembelajaran keaksaraan fungsional meningkatkan kecakapan hidup warga belajar; dan pengaruh pembelajaran keaksaraan fungsional mengubah sikap camat pada pelaksanaan program PBA. Metode penulisan   yang digunakan adalah pendekatan penulisan yaitu pendekatan deskriptif berdasarkan kajian kepustakaan, sumber kajian, selain itu kami menggunakan prosedur penulisan karya ilmiah.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil analisis dan sintesis yang Setelah dilakukan proses pembelajaran sebanyak 79 persen materi pembelajaran berupa kemampuan membaca, menulis dan berhitung dapat dikuasai warga belajar. Kompetensi berhitung memperoleh skor tertinggi, yaitu sebesar 85 dari rentang skor 1-100; Setelah mengikuti pembelajaran keaksaraan fungsional warga belajar memperoleh temuan kecakapan hidup berupa ketrampilan praktis membuat torakur yang dikuasai oleh warga belajar dengan nilai rata-rata 3,34 dari rentang skor 1,00-4,00. Nilai tersebut menunjukkan bahwa penguasaan warga belajar atas ketrampilan membuat kue apem baik; Warga belajar memperoleh nilai rata-rata 3,39 atas penguasaan ketrampilan praktis menghias payet dari rentang skor 1,00-4,00, hal ini menunjukkan bahwa ketrampilan praktis tersebut dapat dikuasai dengan baik oleh warga belajar dan pada gilirannya dapat digunakan untuk sebagai bekal mencari tambahan penghasilan; dan Setelah mengetahui akan manfaat pembelajaran keaksaraan fungsional bagi warga belajar, terjadi perubahan sikap camat pada program PBA. Bila sebelumnya cenderung memberi respons negatif berubah positif dengan mendukung sepenuhnya   pelaksanaan program tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Kata kunci: pembelajaran, keaksaraan fungsional, kecakapan hidup</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Download file Lengk<a title="http://www.fujiro.com/" href="http://www.fujiro.com/" target="_blank"></a><a title="http://fujiro.com/paket-depot/pakai-merk-fujiro" href="http://fujiro.com/paket-depot/pakai-merk-fujiro" target="_blank">a</a>p</em><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Note: There is a file embedded within this post, please visit this post to download the file.<strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: right;"><sub><em>Sumber http://imadiklus.com/2011/03/pembelajaran-keaksaraan-fungsional-kf-dan-kecakapan-hidup-warga-belajar.html</em></sub></p>
.keaksaraan fungsional.laporan keaksaraan fungsional.keaksaraan.makalah keaksaraan fungsional.juknis keaksaraan fungsional.pembelanjaran fungsional.panduan pba kf 2011.laporan kf.Laporan kf keaksaraan dasar.laporan program buta keaksaraan.<div class='wb_fb_comment'><br/></div><img src="http://www.imadiklus.com/?ak_action=api_record_view&id=2547&type=feed" alt=" PEMBELAJARAN KEAKSARAAN FUNGSIONAL (KF) DAN KECAKAPAN HIDUP WARGA BELAJAR"  title="PEMBELAJARAN KEAKSARAAN FUNGSIONAL (KF) DAN KECAKAPAN HIDUP WARGA BELAJAR" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.imadiklus.com/2011/03/pembelajaran-keaksaraan-fungsional-kf-dan-kecakapan-hidup-warga-belajar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014</title>
		<link>http://www.imadiklus.com/2011/03/beasiswa-sampoerna-academy-tahun-akademis-sampoerna-foundatio.html</link>
		<comments>http://www.imadiklus.com/2011/03/beasiswa-sampoerna-academy-tahun-akademis-sampoerna-foundatio.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Mar 2011 11:30:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Sampoerna Foundatio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadiklus.com/?p=2545</guid>
		<description><![CDATA[Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014 Kesempatan untuk meraih impian kamu kini kembali terbuka. Sampoerna Academy, sekolah unggulan berbasis asrama hasil kerja sama dengan Pemerintah Daerah di beberapa provinsi di... <a class="meta-more" href="http://www.imadiklus.com/2011/03/beasiswa-sampoerna-academy-tahun-akademis-sampoerna-foundatio.html">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em><strong>Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014</strong></em> Kesempatan untuk meraih impian kamu kini kembali terbuka. Sampoerna Academy, sekolah unggulan berbasis asrama hasil kerja sama dengan Pemerintah Daerah di beberapa provinsi di Indonesia dan Putera Sampoerna Foundation, kembali mencari bibit-bibit unggul dari daerah Malang, Palembang, Bali dan Bogor. Kesempatan ini juga terbuka bagi pelajar yang berada di daerah sekitarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi Sahabat PSF yang merupakan <strong>siswa siswi lulusan SMP yang berprestasi, dan terutama berasal dari keluarga prasejahtera</strong>, telah terbuka kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Sampoerna Academy tahun akademi 2011/2014. Di sinilah calon-calon pemimpin masa depan Indonesia yang kompeten, berwawasan luas dan bermoral akan ditempa dan dibina.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>SMA Negeri 10 Malang (Sampoerna Academy)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.sampoernafoundation.org/images/sa/news/general%20info%202011%20-%20sa%20malang.pdf"><img src="http://www.sampoernafoundation.org/images/pdf-icon.jpg" alt="pdf icon Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014" width="30" height="30" title="Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014" />Download Syarat dan Ketentuan</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.sampoernafoundation.org/images/sa/news/application%20form%202011%20-%20sa%20malang.pdf"><img src="http://www.sampoernafoundation.org/images/pdf-icon.jpg" alt="pdf icon Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014" width="30" height="30" title="Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014" />Download formulir pendaftaran</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>SMA Negeri Sumatera Selatan (Sampoerna Academy)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.sampoernafoundation.org/images/sa/news/general%20info%202011%20-%20sa%20sumsel.pdf"><img src="http://www.sampoernafoundation.org/images/pdf-icon.jpg" alt="pdf icon Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014" width="30" height="30" title="Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014" />Download Syarat dan Ketentuan</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.sampoernafoundation.org/images/sa/news/application%20form%202011%20-%20sa%20sumsel.pdf"><img src="http://www.sampoernafoundation.org/images/pdf-icon.jpg" alt="pdf icon Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014" width="30" height="30" title="Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014" />Download formulir pendaftaran</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>SMA Negeri Bali Bertaraf Internasional (Sampoerna Academy)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.sampoernafoundation.org/images/sa/news/general%20info%202011%20-%20sa%20bali.pdf"><img src="http://www.sampoernafoundation.org/images/pdf-icon.jpg" alt="pdf icon Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014" width="30" height="30" title="Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014" />Download Syarat dan Ketentuan</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.sampoernafoundation.org/images/sa/news/application%20form%202011%20-%20sa%20bali.pdf"><img src="http://www.sampoernafoundation.org/images/pdf-icon.jpg" alt="pdf icon Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014" width="30" height="30" title="Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014" />Download formulir pendaftaran</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>SMA Sampoerna (Sampoerna Academy) Kampus Bogor</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.sampoernafoundation.org/images/general%20info%202011%20-%20sa%20jakarta.pdf"><img src="http://www.sampoernafoundation.org/images/pdf-icon.jpg" alt="pdf icon Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014" width="30" height="30" title="Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014" />Download Syarat dan Ketentuan</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.sampoernafoundation.org/images/sa/news/application%20form%202011%20-%20sa%20jakarta.pdf"><img src="http://www.sampoernafoundation.org/images/pdf-icon.jpg" alt="pdf icon Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014" width="30" height="30" title="Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014" />Download formulir pendaftaran</a></p>
<p style="text-align: right;"><sub>Sumber http://www.sampoernafoundation.org/SA-News/pendaftaran-beasiswa-sampoerna-academy-tahun-akademis-20112014-siapkan-dirimu-raih-masa-depanmu.html</sub></p>
.beasiswa sampoerna.sampoerna academy.beasiswa sampurna.www beasiswa sampoerna.beasiswa sampoerna malang.sampoerna akademi.sampoernaacademy.beasiswa sampoerna sma.bea siswa sampoerna.persyaratan masuk sman 10 malang sampoerna academy.<div class='wb_fb_comment'><br/></div><img src="http://www.imadiklus.com/?ak_action=api_record_view&id=2545&type=feed" alt=" Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014"  title="Beasiswa Sampoerna Academy Tahun Akademis 2011/2014" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.imadiklus.com/2011/03/beasiswa-sampoerna-academy-tahun-akademis-sampoerna-foundatio.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Definisi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Ã¢â‚¬â€œ PMKS</title>
		<link>http://www.imadiklus.com/2011/01/definisi-penyandang-masalah-kesejahteraan-sosial-pmks.html</link>
		<comments>http://www.imadiklus.com/2011/01/definisi-penyandang-masalah-kesejahteraan-sosial-pmks.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Jan 2011 14:22:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ronggo Tunjung Anggoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadiklus.com/?p=2484</guid>
		<description><![CDATA[Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) adalah seseorang, keluarga atau kelompok masyarakat yang karena suatu hambatan, kesulitan atau gangguan tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya, sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya baik... <a class="meta-more" href="http://www.imadiklus.com/2011/01/definisi-penyandang-masalah-kesejahteraan-sosial-pmks.html">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/_xDqZMDnBt0A/TL3A67-qz4I/AAAAAAAAAYw/kQI2vrv4moQ/s1600/Lukisan-ibu-dan-anak-karya-Pablo-Picasso_imagelarge.jpg"><img class="alignright" style="float: right;" src="http://3.bp.blogspot.com/_xDqZMDnBt0A/TL3A67-qz4I/AAAAAAAAAYw/kQI2vrv4moQ/s1600/Lukisan-ibu-dan-anak-karya-Pablo-Picasso_imagelarge.jpg" alt="Lukisan ibu dan anak karya Pablo Picasso imagelarge Definisi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Ã¢â‚¬â€œ PMKS" width="192" height="163" title="Definisi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Ã¢â‚¬â€œ PMKS" /></a>Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) adalah seseorang, keluarga atau kelompok masyarakat yang karena suatu hambatan, kesulitan atau gangguan tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya, sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya baik jasmani, rohani dan sosial secara memadai dan wajar. Hambatan, kesulitan dan gangguan tersebut dapat berupa kemiskinan, keterlantaran, kecacatan, ketunaan sosial, keterbelakangan, keterasingan/keterpencilan dan perubahan lingkungan (secara mendadak) yang kurang mendukung, seperti terjadinya bencana.</p>
<table style="width: 591px; height: 5692px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center">
<colgroup span="1">
<col span="2" width="31"></col>
<col span="1" width="26"></col>
<col span="1" width="25"></col>
<col span="1" width="30"></col>
<col span="7" width="64"></col>
</colgroup>
<tbody>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" height="17">Berikut ini akan dijelaskan secara terinci definisi operasional dan karakterisitik dari masing-masing jenis Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) :</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>1.</strong></td>
<td colspan="11"><strong>ANAK BALITA TERLANTAR </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Anak yang karena sebab tertentu, orang tuanya tidak dapat melakukan kewajibannya, sehingga terganggu kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangannya baik secara jasmani, rohani maupun sosial</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">1.</td>
<td colspan="10">Usia 0   &lt; 5 tahun</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">2.</td>
<td colspan="10">Orang tuanya miskin/tidak mampu</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">3.</td>
<td colspan="10">Salah seorang dari orang tuanya/kedua-duanya sakit</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">4.</td>
<td colspan="10">Salah seorang/kedua-duanya meninggal</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">5.</td>
<td colspan="10">Ditinggalkan di rumah sakit/di rumah bersalin</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">6.</td>
<td colspan="10">Mengalami kekurangan gizi</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>2.</strong></td>
<td colspan="11"><strong>ANAK TERLANTAR </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Anak yang karena suatu sebab orang tuanya melalaikan kewajibannya, sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhannya dengan wajar baik secara rohani, jasmani maupun sosialnya.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA ANTARA LAIN : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">1.</td>
<td colspan="10">Usia 5   &lt; 18 tahun dan belum menikah</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">2.</td>
<td colspan="10">Orang tuanya miskin/tidak mampu</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">3.</td>
<td colspan="10">Salah seorang dari orang tuanya//kedua-duanya sakit</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">4.</td>
<td colspan="10">Salah seorang/kedua-duanya meninggal</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">5.</td>
<td colspan="10">Tidak terpenuhi kebutuhan dasar hidupnya (pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan)</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>3.</strong></td>
<td colspan="11"><strong>ANAK YANG MENJADI KORBAN TINDAKAN KEKERASAN ATAU DIPERLAKUKAN SALAH </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Anak yang terancam secara fisik dan non fisik karena tindakan kekerasan, diperlakukan salah atau tidak semestinya dalam lingkungan keluarganya atau lingkungan sosial terdekatnya, sehingga tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan wajar baik secara jasmani, rohani maupun sosial.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA ANTARA LAIN : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">1.</td>
<td colspan="10">Usia 5   &lt; 18 tahun dan belum menikah</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">2.</td>
<td colspan="10">Anak yang diperjualbelikan atau anak korban perkosaan</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>4.</strong></td>
<td colspan="11"><strong>ANAK NAKAL </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Anak/Remaja (pria atau wanita) yang berprilaku menyimpang dari norma dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat lingkungannya, sehingga merugikan dirinya, keluarga atau orang lain.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA ANTARA LAIN : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">1.</td>
<td colspan="10">Usia 5   &lt; 18 tahun dan belum menikah</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">2.</td>
<td colspan="10">Melakukan kegiatan/perbuatan yang mengganggu ketertiban umum/masyarakat</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">3.</td>
<td colspan="10">Sering mencuri di lingkungan keluarga atau familinya</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">4.</td>
<td colspan="10">Orang tuanya tidak mampu mengurusnya</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">5.</td>
<td colspan="10">Sering memeras/mengompas temannya sendiri</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">6.</td>
<td colspan="10">Sering mengotori atau merusak barang, peralatan, bangunan atau fasilitas umum</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>5.</strong></td>
<td colspan="11"><strong>ANAK JALANAN </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Anak yang berusia 5   &lt; 18 tahun yang sebagian waktunya berada di jalanan sebagai pedagang asongan, pengemis, pengamen, jualan koran, jasa semir sepatu dan mengelap mobil.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA ADALAH : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">1.</td>
<td colspan="10">Mencari nafkah untuk membantu orang tuanya</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">2.</td>
<td colspan="10">Bersekolah/tidak sekolah</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">3.</td>
<td colspan="10">Keluarganya tidak mampu</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">4.</td>
<td colspan="10">Tinggal dengan orang tua/Melarikan diri dari rumah/tinggal di jalanan sendiri maupun bersama-sama teman-teman, seperti di emperan toko, terminal dan sebagainya.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">5.</td>
<td colspan="10">Mempunyai aktivitas di jalanan baik terus menerus maupun tidak, minimal 4 sampai 6 jam per hari.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">6.</td>
<td colspan="10">Berkeliaran tidak menentu dan sebagainya.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>6.</strong></td>
<td colspan="11"><strong>ANAK CACAT </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Anak yang berusia 0   &lt; 18 tahun, yang mengalami kelainan fisik atau mental sebagai akibat dari bawaan sejak lahir maupun lingkungan (kecelakaan), sehingga menjadi hambatan untuk melakukan kegiatan sehari-hari secara layak.</td>
</tr>
<tr height="18">
<td width="31" height="18"></td>
<td colspan="11" width="560"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><strong><em>ANAK CACAT TERDIRI DARI ANAK CACAT TUBUH, NETRA, MENTAL DAN RUNGU WICARA. </em></strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA ANTARA LAIN : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"><strong>1.</strong></td>
<td colspan="10"><strong>Penyandang Cacat Tubuh </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td colspan="10" width="529">Pengalaman Profesional/Pengabdian Masyarakat</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td>1.</td>
<td colspan="9">Tidak lengkap, putus tangan atau kaki</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td>2.</td>
<td colspan="9">Cacat Tulang, sendi tangan atau kaki</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td>3.</td>
<td colspan="9">Cacat Tulang Punggung, paraplegia/lumpuh</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td>4.</td>
<td colspan="9">Lumpuh Total</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td width="26"></td>
<td colspan="9" width="503"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"><strong>2.</strong></td>
<td colspan="10"><strong>Penyandang Cacat Buta (Tuna Netra) </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td>1.</td>
<td colspan="9">Buta kedua matanya</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td>2.</td>
<td colspan="9">Seseorang yang mengalami kebutaan, yang tidak dapat melihat atau menghitung jari tangan orang lain dalam jarak 1 meter, karena bawaan atau kecelakaan</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td width="26"></td>
<td colspan="9" width="503"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"><strong>3.</strong></td>
<td colspan="10"><strong>Penyandang Cacat Tuli Bisu (Tuna Rungu Wicara) </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td>1.</td>
<td colspan="9">Tidak dapat mendengar dan berbicara</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td>2.</td>
<td colspan="9">Berbicara tidak jelas</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td width="26"></td>
<td colspan="9" width="503"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"><strong>4.</strong></td>
<td colspan="10"><strong>Penyandang Cacat Mental </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td>1.</td>
<td colspan="9">Cacat Mental Psikotik</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td>2.</td>
<td colspan="9">Orang bekas menderita penyakit gila</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td>3.</td>
<td colspan="9">Masih bertingkah laku aneh-aneh</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td>4.</td>
<td colspan="9">Cacat Mental Retardasi</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25">a.</td>
<td colspan="8">IDIOT</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25"></td>
<td colspan="8">Seseorang yang tingkat kemampuan dan tingkah lakunya setingkat dengan anak normal berusia 2 tahun, yang pada umumnya kehidupannya dihabiskan di tempat tidur dengan terlentang atau miring serta buang kotoran (kencing dan buang air besar) di tempat tidur</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25"></td>
<td colspan="8" width="478"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25">b.</td>
<td colspan="8">EMBISIL</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25"></td>
<td colspan="8">Seseorang yang kemampuan mental dan tingkah lakunya setingkat dengan anak normal berusia 3 &#8211; 7 tahun dengan ciri-ciri kepala besar tidak seimbang dengan besar tubuhnya.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25"></td>
<td colspan="8" width="478"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25">c.</td>
<td colspan="8">DEBIL</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25"></td>
<td colspan="8">Seseorang yang kemampuan mental dan tingkah lakunya setingkat dengan anak normal berusia 8 &#8211; 12 tahun dengan ciri-ciri antara lain tingkah lakunya masih ke kanak-kanakan dan sangat bodoh.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>7.</strong></td>
<td colspan="11"><strong>Wanita Rawan Sosial Ekonomi </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Seseorang Wanita Dewasa yang belum menikah atau janda yang tidak mempunyai penghasilan cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRI ANTARA LAIN : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>1.</td>
<td colspan="10">Wanita Dewasa, belum menikah (adalah wanita anak fakir miskin) atau janda (adalah wanita sebagai Kepala Keluarga), berusia 18 &#8211; &lt;6 0 tahun</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>2.</td>
<td colspan="10">Penghasilan tidak memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>8.</strong></td>
<td colspan="11"><strong>Wanita yang Menjadi Korban Tindakan Kekerasan atau Diperlakukan Salah </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Wanita yang terancam secara fisik dan non fisik karena tindakan kekerasan, diperlakukan salah atau tidak semestinya dalam lingkungan keluarganya atau lingkungan sosial terdekatnya, sehingga tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan wajar baik secara jasmani, rohani maupun sosial.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA ANTARA LAIN : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>1.</td>
<td colspan="10">Wanita yang berusia 18   &lt; 60 tahun</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>2.</td>
<td colspan="10">Wanita yang diperkosa atau dianiaya</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>9.</strong></td>
<td colspan="11"><strong>Lanjut Usia Terlantar</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Seseorang yang berumur 60 tahun atau lebih, karena sebab-sebab tertentu tidak dapat memenuhi kebutuhan pokoknya baik rohani, jasmani maupun sosial.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA ANTARA LAIN : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>1.</td>
<td colspan="10">Usia di atas 60 tahun</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>2.</td>
<td colspan="10">Tidak mempunyai penghasilan yang dapat memenuhi kebutuhan pokoknya yang meliputi sandang, pangan, papan dan kesehatan yang layak</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">3.</td>
<td colspan="10">Tidak ada keluarga, sanak saudara atau orang lain yang mau dan mampu mengurusnya</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>10.</strong></td>
<td colspan="11"><strong>Lanjut Usia yang Menjadi Korban Tindak Kekerasan atau Diperlakukan Salah </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Lanjut Usia yang terancam secara fisik dan non fisik karena tindakan kekerasan, diperlakukan salah atau tidak semestinya dalam lingkungan keluarganya atau lingkungan sosial terdekatnya, sehingga tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan wajar baik secara jasmani, rohani maupun sosial.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA ANTARA LAIN : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>1.</td>
<td colspan="10">Lanjut Usia yang berusia di atas 60 tahun</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>2.</td>
<td colspan="10">Lanjut Usia yang dianiaya</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>11.</strong></td>
<td colspan="11" width="560"><strong>Penyandang Cacat</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Seseorang yang mengalami kelainan fisik atau mental sebagai akibat dari bawaan sejak lahir maupun lingkungan (kecelakaan), sehingga menjadi hambatan untuk melakukan kegiatan sehari-hari secara layak.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><strong><em>Penyandang Cacat Terdiri dari Penyandang Cacat Terdiri dari Penyandang Cacat Tubuh, Netra, Mental dan Rungu Wicara </em></strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA ANTARA LAIN : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td><strong>1.</strong></td>
<td colspan="10"><strong>Penyandang Cacat Tubuh </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td></td>
<td>1.</td>
<td colspan="9">Tidak lengkap, putus tangan atau kaki</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td></td>
<td>2.</td>
<td colspan="9">Cacat Tulang, sendi tangan atau kaki</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td></td>
<td>3.</td>
<td colspan="9">Cacat Tulang Punggung, paraplegia/lumpuh</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td></td>
<td>4.</td>
<td colspan="9">Lumpuh Total</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td width="26"></td>
<td colspan="9" width="503"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td><strong>2.</strong></td>
<td colspan="10"><strong>Penyandang Cacat Buta (Tuna Netra) </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td></td>
<td>1.</td>
<td colspan="9">Buta kedua matanya</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td></td>
<td>2.</td>
<td colspan="9">Seseorang yang mengalami kebutaan, yang tidak dapat melihat atau menghitung jari tangan orang lain dalam jarak 1 meter, karena bawaan atau kecelakaan</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td width="26"></td>
<td colspan="9" width="503"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong> </strong></td>
<td><strong>3.</strong></td>
<td colspan="10"><strong>Penyandang Cacat Tuli Bisu (Tuna Rungu Wicara) </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td></td>
<td>1.</td>
<td colspan="9">Tidak dapat mendengar dan berbicara</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td></td>
<td>2.</td>
<td colspan="9">Berbicara tidak jelas</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td width="26"></td>
<td colspan="9" width="503"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"><strong>4.</strong></td>
<td colspan="10"><strong>Penyandang Cacat Mental </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td>1.</td>
<td colspan="9">Cacat Mental Psikotik</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25">a.</td>
<td colspan="8">Orang bekas menderita penyakit gila</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25">b.</td>
<td colspan="8">Masih bertingkahlaku aneh-aneh</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25"></td>
<td colspan="8" width="478"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td>2.</td>
<td colspan="9">Cacat Mental Retardasi</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25">a.</td>
<td colspan="8">IDIOT</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25"></td>
<td colspan="8">Seseorang yang tingkat kemampuan dan tingkah lakunya setingkat dengan anak normal berusia 2 tahun, yang pada umumnya kehidupannya dihabiskan di tempat tidur dengan terlentang atau miring serta buang kotoran (kencing dan buang air besar) di tempat tidur.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25">b.</td>
<td colspan="8">EMBISIL</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25"></td>
<td colspan="8">Seseorang yang kemampuan mental dan tingkah lakunya setingkat dengan anak normal berusia 3 &#8211; 7 tahun dengan ciri-ciri kepala besar tidak seimbang dengan besar tubuhnya.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25">c.</td>
<td colspan="8">DEBIL</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25"></td>
<td colspan="8">Seseorang yang kemampuan mental dan tingkah lakunya setingkat dengan anak normal berusia 8 &#8211; 12 tahun dengan ciri-ciri antara lain tingkah lakunya masih ke kanak-kanakan dan sangat bodoh.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td></td>
<td width="25"></td>
<td colspan="8" width="478"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>12.</strong></td>
<td colspan="11"><strong>Penyandang Cacat Bekas Penyakit Kronis </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Seseorang yang pernah menderita penyakit menahun atau kronis, seperti Kusta dan TBC, yang telah mengikuti proses pengobatan medik dan dinyatakan sembuh, tetapi mengalami hambatan untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari karena dikucilkan oleh keluarga atau masyarakat.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">1.</td>
<td colspan="10">Jari tangan atau jari kaki putus</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">2.</td>
<td colspan="10">Tubuh menjadi bongkok</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>13.</strong></td>
<td colspan="11" width="560"><strong>Tuna Sosial</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Seseorang Wanita, Pria atau Waria, terutama dari keluarga kurang mampu, yang melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, dengan tujuan untuk mendapatkan imbalan jasa.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA ANTARA LAIN : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>1.</td>
<td colspan="10">Tuna Susila yang berada di lokasi dan lokalisasi</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>2.</td>
<td colspan="10">Tuna Susila yang berada di jalanan</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>3.</td>
<td colspan="10">Tuna Susila yang berada di rumah-rumah bordil</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>14.</strong></td>
<td colspan="11" width="560"><strong>Pengemis</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>1.</td>
<td colspan="10">Meminta-minta di tempat umum</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>2.</td>
<td colspan="10">Pada umumnya bertingkahlaku agar dibelas kasihani</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>15.</strong></td>
<td colspan="11" width="560"><strong>Gelandangan</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Seseorang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat dan perlu mendapat bantuan untuk hidup dan bekerja secara layak dan mandiri.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td colspan="10">Hidup menggelandang di tempat-tempat umum terutama di kota-kota</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td colspan="10">Tempat tinggal tidak tetap, digubug liar, emper toko, di bawah jembatan dan sejenisnya</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td colspan="10">Tidak mempunyai pekerjaan yang tetap</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td colspan="10">Miskin</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>16.</strong></td>
<td colspan="11" width="560"><strong>Gelandangan Psykotik</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Seseorang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat, mempunyai tingkah laku aneh/menyimpang dari norma-norma yang ada atau seseorang bekas penderita penyakit jiwa, yang telah mendapat pelayanan medis dan telah mendapat Surat Keterangan Sembuh dan tidak mempunyai keluarga/kurang mampu serta perlu mendapat bantuan untuk hidup.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>1.</td>
<td colspan="10">Hidup menggelandang di tempat-tempat umum terutama di kota-kota</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>2.</td>
<td colspan="10">Kehadirannya tidak diterima keluarga dan masyarakat sekitarnya</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>3.</td>
<td colspan="10">Tempat tinggal tidak tetap, emper toko, di bawah jembatan dan sejenisnya</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>4.</td>
<td colspan="10">Sering mengamuk dan berbicara sendiri</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">5.</td>
<td colspan="10">Penampilannya di bawah sadar atau tidak sesuai dengan norma dalam masyarakat (Sakit Jiwa), misalnya tidak menggunakan pakaian (telanjang bulat), sisa makanan dimakan dan lain sebagainya</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">6.</td>
<td colspan="10">Tidak mempunyai pekerjaan</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>17.</strong></td>
<td colspan="11" width="560"><strong>Bekas Nara Pidana</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Seseorang yang telah selesai menjalani masa hukuman, karena tindak kriminal akan tetapi tidak diterima dengan baik atau disingkirkan/dijauhi oleh keluarga dan masyarakatnya, sehingga mendapatkan kesulitan untuk melaksanakan tugas kehidupannya secara normal.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRI ANTARA LAIN : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>1.</td>
<td colspan="10">Tidak mempunyai pekerjaan</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td>2.</td>
<td colspan="10">Disingkiri oleh keluarga/masyarakat</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>18.</strong></td>
<td colspan="11" width="560"><strong>Korban Penyalahgunaan Napza</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong> </strong></td>
<td colspan="11">Adalah Seseorang Pria atau Wanita terutama yang berusia antara 5 sampai 60 tahun bahkan lebih yang pernah menyalahgunakan narkotika, psikotropika atau zat adiktif lainnya, termasuk minuman keras pada taraf coba-coba atau sampai mengalami ketergantungan/kecanduan, sesudah dinyatakan bebas dari ketergantungan fisik oleh dokter yang berwenang, berasal dari keluarga baik yang mampu maupun yang kurang mampu.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong> </strong></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong> </strong></td>
<td>1.</td>
<td colspan="10">Menggunakan narkotika, psikotropika atau zat adiktif lainnya termasuk minuman keras.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong> </strong></td>
<td>2.</td>
<td colspan="10">Belum atau sudah mengalami ketergantungan.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong> </strong></td>
<td>3.</td>
<td colspan="10">Badan kurus, pucat, mata cekung, merah dan tidak tahan kena sinar matahari, teller, berbicara di luar kontrol, begadang dan bergerombol tanpa tujuan.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>19.</strong></td>
<td colspan="11" width="560"><strong>Keluarga Fakir-Miskin</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Keluarga yang tidak mempunyai sumber mata pencaharian yang tetap dan tidak mempunyai ketrampilan untuk dapat memenuhi kebutuhan pokok yang layak.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA ANTARA LAIN : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">1.</td>
<td colspan="10">Usia 18 &#8211; &lt; 60 tahun</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">2.</td>
<td colspan="10">Tidak pernah membeli pakaian dalam setahun atau hanya pada waktu lebaran/natal saja.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">3.</td>
<td colspan="10">Penggunaan air bersih masih menggunakan air sumur, sungai, mata air dan air hujan.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">4.</td>
<td colspan="10">Pengeluaran rumah tangga lebih besar daripada pendapatan.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">5.</td>
<td colspan="10">Kepemilikan rumah masih menyewa/kontrak/menumpang atau milik sendiri, tetapi tidak layak huni.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">6.</td>
<td colspan="10">Dinding rumah masih menggunakan bambu.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">7.</td>
<td colspan="10">Lantai rumah masih tanah/pasir.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">8.</td>
<td colspan="10">Tidak mempunyai sarana tempat buang air besar (jamban/kakus) atau menggunakan toilet umum.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">9.</td>
<td colspan="10">Sumber penerangan masih menggunakan petromak atau listrik bersama.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">10.</td>
<td colspan="10">Pada umumnya jumlah anggota rumah tangga masih banyak (4 s/d 6 orang bahkan lebih).</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">11.</td>
<td colspan="10">Tidak mempunyai mata pencaharian yang tetap atau mempunyai mata pencaharian, tetapi tidak dapat mencukupi kebutuhan pokoknya.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">12.</td>
<td colspan="10">Pelayanan kesehatan yang digunakan seperti mantri, bidan dan puskesmas.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">13.</td>
<td colspan="10">Pendidikan kepala rumah tangga masih rendah seperti tidak sekolah, tidak tamat SD dan tamat SD.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>20.</strong></td>
<td colspan="11" width="560"><strong>Keluarga Berumah tak Layak Huni</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Keluarga yang rumah dan lingkungannya kumuh (kotor dan tidak teratur) untuk tempat tinggal baik secara fisik, kesehatan maupun sosial.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">1.</td>
<td colspan="10">Rumah berada di lingkungan kumuh</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">2.</td>
<td colspan="10">Bangunan berupa gubug dan pengap</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">3.</td>
<td colspan="10">Tidak mempunyai kamar</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">4.</td>
<td colspan="10">Tidak mempunyai sumur dan kakus</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>21.</strong></td>
<td colspan="11" width="560"><strong>Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Keluarga yang Bermasalah Sosial Psikologis adalah :</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">1.</td>
<td colspan="10">Keluarga yang hubungan di dalam keluarganya maupun dengan lingkungan tidak serasi/rukun.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">2.</td>
<td colspan="10">Sikap dan tingkah lakunya tidak sesuai dengan norma-norma dalam keluarga maupun lingkungannya.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">3.</td>
<td colspan="10">Suami atau istri sering meninggalkan rumah tangga tanpa memperhatikan/bertanggungjawab terhadap keluarganya.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td colspan="10"><em>CIRI-CIRINYA ADALAH : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td width="26">1.</td>
<td colspan="9">Sering bertengkar</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td width="26">2.</td>
<td colspan="9">Dikucilkan oleh tetangganya</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31"></td>
<td width="26">3.</td>
<td colspan="9">Hidup sendiri-sendiri walaupun masih dalam ikatan keluarga</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>22.</strong></td>
<td colspan="11" width="560"><strong>Komunitas Adat Terpencil</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Kelompok orang yang hidupnya dalam kesatuan-kesatuan sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencil serta kurang/belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial, ekonomi maupun politik serta masih sangat terikat pada sumber daya alam.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11"><em>CIRI-CIRINYA : </em></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">1.</td>
<td colspan="10">Berbentuk komunitas adat terpencil, tertutup dan homogen</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">2.</td>
<td colspan="10">Pranata sosial bertumpu pada hubungan kekerabatan</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">3.</td>
<td colspan="10">Pada umumnya terpencil secara geografis dan relatif/sulit dijangkau</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">4.</td>
<td colspan="10">Pada umumnya masih hidup dengan sistem ekonomi subsistens</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">5.</td>
<td colspan="10">Peralatan dan teknologinya sederhana</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">5.</td>
<td colspan="10">Ketergantungan pada lingkungan hidup dan sumber daya alam setempat relatif tinggi</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">6.</td>
<td colspan="10">Terbatasnya akses pelayanan sosial, ekonomi dan politik</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>23.</strong></td>
<td colspan="11" width="560"><strong>Masyarakat yang Tinggal di Daerah Rawan Bencana</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Keluarga/Kelompok Masyarakat yang bertempat tinggal/bermukim di daerah yang relatif sering terjadi bencana atau kemungkinan besar dapat terjadi bencana, yang membahayakan jiwa, kehidupan dan penghidupannya seperti :</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">1.</td>
<td colspan="10">Bertempat tinggal di wilayah bahaya gunung berapi.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">2.</td>
<td colspan="10">Bermukim di daerah aliran sungai yang sering banjir</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">3.</td>
<td colspan="10">Bermukim di daerah yang kemungkinan besar bisa terjadi bencana tanah longsor</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">4.</td>
<td colspan="10">Bermukim di daerah yang padat penduduknya dan kumuh di perkotaan yang rawan bencana kebakaran</td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td width="31">5.</td>
<td colspan="10">Bermukim di daerah pantai yang rawan bencana gelombang pasang</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>24.</strong></td>
<td colspan="11" width="560"><strong>Korban Bencana Alam</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Perorangan/Keluarga/Kelompok Masyarakat yang masih menderita baik secara fisik, mental maupun sosial ekonomi sebagai akibat dari terjadinya bencana/musibah seperti banjir, gempa bumi tektonik, tanah longsor, gelombang pasang, kebakaran, angin ribut dan kekeringan yang terjadi paling lama 1 (satu) tahun yang lalu termasuk kerugian jiwa, bangunan, lahan dan ternak, sehingga menyebabkan mereka mengalami hambatan dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>25.</strong></td>
<td colspan="11" width="560"><strong>Korban Bencana Sosial/Pengungsi</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Orang/Sekelompok Orang yang terusir dan atau atas dasar kemauan sendiri meninggalkan tempat kehidupan semula, karena terancam keselamatan dan keamanannya atau adanya rasa ketakutan oleh karena ancaman dari kelompok/golongan sosial tertentu sebagai akibat dari konflik atau kekerasan lain yang menyebabkan kekacauan di masyarakat lingkungannya.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>26.</strong></td>
<td colspan="11" width="560"><strong>Pekerja Migran Terlantar</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah Seseorang yang bekerja di luar tempat asalnya dan menetap sementara di tempat tersebut dan mengalami permasalahan sosial, sehingga menjadi terlantar.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>27.</strong></td>
<td colspan="11" width="560"><strong>Pengidap HIV/AIDS</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Adalah seseorang yang berusia 0   60 tahun bahkan lebih, yang dengan rekomendasi profesional (dokter) atau petugas laboraturium terbukti tertular virus HIV, sehingga mengalami sindrom penurunan daya tahan tubuh (AIDS) dan hidup terlantar.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"><strong>28.</strong></td>
<td colspan="11" width="560"><strong>Keluarga Rentan</strong></td>
</tr>
<tr height="17">
<td width="31" height="17"></td>
<td colspan="11">Keluarga Muda yang baru menikah (sampai dengan lima tahun usia pernikahan) yang mengalami masalah sosial dan ekonomi, sehingga kurang mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarga.</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17"></td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17">Sumber :</td>
</tr>
<tr height="17">
<td colspan="12" width="591" height="17">Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur</td>
</tr>
</tbody>
</table>
.penyandang masalah kesejahteraan sosial.makalah penyandaqng kesejahteraan sosial.9 Masalah sosial.konsepsi pmks.makalah kesejahteraan sosial.makalah tentang keterlantaran anak.masalah anak cacat fisik.masalah kesejahteraan sosial.pengertian â€œ.pengertian kesejahteraan masyarakat.<div class='wb_fb_comment'><br/></div><img src="http://www.imadiklus.com/?ak_action=api_record_view&id=2484&type=feed" alt=" Definisi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Ã¢â‚¬â€œ PMKS"  title="Definisi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Ã¢â‚¬â€œ PMKS" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.imadiklus.com/2011/01/definisi-penyandang-masalah-kesejahteraan-sosial-pmks.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BELAJAR TANPA SEKOLAH</title>
		<link>http://www.imadiklus.com/2010/11/belajar-tanpa-sekolah.html</link>
		<comments>http://www.imadiklus.com/2010/11/belajar-tanpa-sekolah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Nov 2010 15:51:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ronggo Tunjung Anggoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadiklus.com/?p=2443</guid>
		<description><![CDATA[Nama       DEWI ERNI LOGANANTA Email       dwlogananta4@gmail.com Asal Insatansi/Univ       UNNES NO HP       o85640165xxx BELAJAR TANPA SEKOLAH Mari kita buka... <a class="meta-more" href="http://www.imadiklus.com/2010/11/belajar-tanpa-sekolah.html">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Nama       DEWI ERNI LOGANANTA<img class="alignright" src="http://1.bp.blogspot.com/_8_B1hf88ikQ/TMaOOGoUDfI/AAAAAAAAAV0/kRon5RZXHMQ/s400/baca.jpg" alt="baca BELAJAR TANPA SEKOLAH" width="254" height="190" title="BELAJAR TANPA SEKOLAH" /><br />
Email       dwlogananta4@gmail.com<br />
Asal Insatansi/Univ       UNNES<br />
NO HP       o85640165xxx</p>
<p style="text-align: justify;">BELAJAR TANPA SEKOLAH</p>
<p style="text-align: justify;">Mari kita buka mata. Ini nyata, hanya di Indonesia. Negara yang birokrasinya super lama. Negara yang penduduk miskinnya makin banyak. Negara yang orang bunuh dirinya rata-rata lima orang setiap harinya. Negara yang kriminalitas dan tindakan asusila mulai merambah kemana-mana. Negara yang, padahal belum maju, tapi mulai memundur. Ini Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Indonesia, dari segala aspek, ekonomi, politik, sosial, budaya, hankam, dan yang lainnya, memiliki banyak masalah. Masalah ini disebabkan oleh dua hal besar, kelemahan sistem dan kelemahan manusianya. Tapi dua hal ini bisa kita kerucutkan lagi menjadi satu masalah: kelemahan manusia, karena sistem juga di buat manusia. Kelemahan-kelemahan manusia ini adalah hasil dari akumulasi kesalahan sebuah sistem pada satu aspek kehidupan yaitu   pendidikan. Masalah utama kita adalah lemahnya sistem pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Terdapat satu tawaran dunia yang mulai maju akhir-akhir ini meskipun sebenarnya telah lebih dulu lahirnya. Pendidikan non-formal menjadi satu dari banyak solusi dari permasalahan pokok di atas. Tawaran-tawaran Pendidikan non-formal ini ternyata telah terbukti turut memberi kontribusi pada negara sebagai langkah solutif.</p>
<p style="text-align: justify;">Diadakannya jurusan Pendidikan Nonformal pada perkuliahan di Tanah air, ini menjadi tapak awal perjuangan pendidikan nonformal. Pendidikan nonformal yang selanjutnya disebut pendidikan luar sekolah inilah yang menjadi minat bagi mereka yang terbilang pandai mencari peluang untuk dapat diterima pada Universitas/ Perguruan Tinggi, disebabkan peminat dan kuota yang sangat minim. Ini mungkin   terjadi hanya pada beberapa mahasiswa. Beberapa dari mereka lainnya telah mempunyai motivasi dari orang-orang terdekat yang boleh dikata telah mengerti apa itu pendidikan luar sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas dari latar belakang apapun mahasiswa bisa berada pada jurusan itu, mereka mempunyai tantangan yang sangat berat. Akal dan mental mereka akan dikejjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan dadri mereka-mereka yang kurang tahu atau bahkan tidak tahu sama sekali mengenai PLS. Berat memang, namun tak harus menunggu 3 atau 4 tahun untuk dapat mennjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Di perkuliahan PLS-lah mereka akan tahu.</p>
<p style="text-align: justify;">Mahasiswa-mahasiswa PLS inilah yang akan digembleng untuk menjadi Pemberdaya Masyarakat, merekalah yang akan merangkul kaum-kaum lapisan menengah ke bawah yang selama ini kurang dipandang dengan dua bola mata penuh, mereka jugalah yang akan menciptakan banyak pekerja bukan pengemis lowongan pekerjaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Harapan terbesar dari penulis pribadi adalah sebuah keberhasilan dalam merelasikan tiga unsur vital demi terciptanya kesejahteraan yang diimpikan. Tiga unsur itu yakni <strong><span style="text-decoration: underline;">manajer, warga belajar dan pemilik dana</span></strong><span style="text-decoration: underline;">.</span> Hal itu dapat dikatakan sebagai inti dari program Pendidikan Luar Sekolah. Meskipun butuh usaha besar untuk hal itu, penulis menilai itu sebagai impian bukan mimpi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah konsep yang ingin sekali penulis tawarkan adalah konsep mengenai perangkulan kaum-kaum kurang beruntung pada umumnya dan anak-anak korban eksploitasi pada khususnya pada rangkulan edukasi dunia. Mereka   anak-anak yang terpaksa hidup di keliling sampah dan mereka yang semata-mata terjerumus dalam gank-gank yang kurang berorientasi positif pada kehidupan. Siapa yang akan merangkul mereka ? PLS bisa! Sangat bisa !</p>
<p style="text-align: justify;">Konsep itu berupa kesatuan kegiatan yang akan menjadi tempat mereka belajar, berlatih, dan menngembangkan diri demi tercapainya tujuan hidup mereka masing-masing. Penulis di dalam hal ini akanm membawa sebuah kalimat yang berkarakter atau lebih dikenal dengan slogan yaitu “BELAJAR TANPA SEKOLAH . Sungguh inilah impian penulis sebagai mahasiswa PLS UNNES 2010. Konsep ini nantinya akan sangat membutuhkan stake holders yang tak sedikit. Penulis perlu memilih mitra yang <em>suitable </em>(cocok) untuk konsep program tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“BELAJAR TANPA SEKOLAH , penulis inginkan karena kosakata sekolah rupanya kian membuat jarak bagi dua kaum penikmat dan kaum melarat. Sekolah dijadikan sebagai kebanggaan yang dapat dikiaskan bahwa “pendidikan hanya dinikmati oleh mereka kaum ekonomi baik/ kaum konglomerat . Kaum konglomerat terus bersekolah dengan segudang uangnya sedang kaum melarat terus meratap menatap mimpi dengan segudang bebannya. Terlepas dari kata “sekolah  penulis ingin mereka belajar artinya mereka belajar tanpa bersekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“BELAJAR TANPA SEKOLAH , ini merupakan kesatuan kegiatan yang diharapkan dapat dinikmati oleh seluruh mereka yang tergolong kurang beruntung. Dengan pendekatan-pendekatan progresiv tentunya konsep ini tidak mustahil untuk diwujudkan. Keterlibatan Negara dalam hal inipun sangat dibutuhkan untuk dapat bersama memberikan inspirasi dalam pengembangan “BELAJAR TANPA SEKOLAH  ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Follow up</em> dari harapan awal tadi adalah terwujudnya tenga-tenaga trampil terdidik yang mumpuni / mampu untuk mengembangkan ketrampilannya pada masyarakat luas. Seiring itu mereka akan menuju pada penciptaan lapangan kerja sehingga mengurangi angka pengemis lowongan kerja di Tanah air.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini merupakan satu dari banyak impian mahasiswa PLS UNNES 2010.</p>
<p style="text-align: justify;">BERSAMA MENGGAPAI CITA, PLS BERJAYA!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;">
<table style="background: none repeat scroll 0% 0% #f4f5fb; color: #666666; font-size: 1em; font-family: verdana; width: 100%;" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="color: #000000; font-size: 90%; white-space: nowrap; padding: 4px 20px 4px 15px; vertical-align: top;">Nama</td>
<td style="font-size: 90%; width: 100%;">DEWI ERNI LOGANANTA</td>
</tr>
<tr>
<td style="color: #000000; font-size: 90%; white-space: nowrap; padding: 4px 20px 4px 15px; vertical-align: top;">Email</td>
<td style="font-size: 90%; width: 100%;"><a href="mailto:dwlogananta4@gmail.com" target="_blank">dwlogananta4@gmail.com</a></td>
</tr>
<tr>
<td style="color: #000000; font-size: 90%; white-space: nowrap; padding: 4px 20px 4px 15px; vertical-align: top;">Asal Insatansi/Univ</td>
<td style="font-size: 90%; width: 100%;">UNNES</td>
</tr>
<tr>
<td style="color: #000000; font-size: 90%; white-space: nowrap; padding: 4px 20px 4px 15px; vertical-align: top;">NO HP</td>
<td style="font-size: 90%; width: 100%;">o85640165499</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
.kliping tentang lembaga negara dan warga negara indonesia.negara tanpa sekolah.<div class='wb_fb_comment'><br/></div><img src="http://www.imadiklus.com/?ak_action=api_record_view&id=2443&type=feed" alt=" BELAJAR TANPA SEKOLAH"  title="BELAJAR TANPA SEKOLAH" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.imadiklus.com/2010/11/belajar-tanpa-sekolah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>86</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Program Aksara sebagai Menu Pendidikan Keaksaraan</title>
		<link>http://www.imadiklus.com/2010/09/program-aksara-sebagai-menu-pendidikan-keaksaraan.html</link>
		<comments>http://www.imadiklus.com/2010/09/program-aksara-sebagai-menu-pendidikan-keaksaraan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Sep 2010 17:53:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muarifuddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadiklus.com/?p=2248</guid>
		<description><![CDATA[Seperti apa yang telah digembar-gemborkan saat ini mengenai pendidikan kewirausahaan, isu utama dalam pembangunan nasional tampaknya terletak pada pengembangan kewirausahaan sebagai peningkatan pembangunan ekonomi. Wacana tersebut menjadi pertimbangan dalam menapaki... <a class="meta-more" href="http://www.imadiklus.com/2010/09/program-aksara-sebagai-menu-pendidikan-keaksaraan.html">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://lh6.ggpht.com/_N_aSZtO_L1U/TKN81e09k1I/AAAAAAAAAB0/tZ4xdHBEWQ8/keaksaraan.jpg"><img class="alignleft" src="http://lh6.ggpht.com/_N_aSZtO_L1U/TKN81e09k1I/AAAAAAAAAB0/tZ4xdHBEWQ8/keaksaraan.jpg" alt="keaksaraan Program Aksara sebagai Menu Pendidikan Keaksaraan" width="184" height="138" title="Program Aksara sebagai Menu Pendidikan Keaksaraan" /></a>Seperti apa yang telah digembar-gemborkan saat ini mengenai pendidikan kewirausahaan, isu utama dalam pembangunan nasional tampaknya terletak pada pengembangan kewirausahaan sebagai peningkatan pembangunan ekonomi. Wacana tersebut menjadi pertimbangan dalam menapaki konsep peningkatan pengembangan pendidikan di negeri ini. Indonesia mulai menyadari akan pentingnya kewirausahaan diterapkan diberbagai aspek dalam mengentaskan kemiskinan dan pengangguran. Rintisan ini menjadi amanat yang perlu diemban oleh para praktisi pendidikan luar sekolah di bawah naungan Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak tahun 2008 Indonesia telah bergabung dengan program LIFE (Literacy Initiative for Empowerment) yang digulirkan oleh UNESCO bagi sembilan Negara penyandang buta aksara terbesar termasuk di dalamnya Indonesia. Sejalan dengan program LIFE, dibangunlah dalam kerangka kerja AKRAB (Aksara agar Berdaya) pada tahun 2009 sebagai upaya penuntasan buta aksara melalui pendidikan keaksaraan terintegrasi dengan kecakapan hidup yang diharapkan nantinya dapat mengentaskan kemiskinan dan pengangguran di negeri ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak hanya sekedar memberikan jala ataupun perahu bagi para nelayan, namun hal yang lebih penting bagi mereka adalah pemberian fasilitas seperti TPI (Tempat Pelelangan Ikan) atau target market hasil penangkapan ikan itu sendiri mau dijual kemana. Hal seperti inilah yang musti diperhatikan dalam pengelolaan pengembangan pendidikan terutama bagi pendidikan keaksaraan. Karena masyarakat tidak hanya butuh dapat membaca saja, pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka yang lebih perlu diperhatikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Fokus pendidikan keaksaraan ke depan tidak hanya keaksaraan dasar, tetapi memberdayakan secara ekonomi, sosial, dan budaya serta diharapkan pendidikan keaksaraan dapat bermakna bagi masyarakat dan mampu menjawab tantangan saat ini. Begitulah yang disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Hamid Muhammad saat memberikan keterangan pers terkait peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-45 2010 di Gerai Informasi dan Media Kemdiknas, Jakarta. Yang rencananya peringatan HAI akan dilaksanakan pada 10 Oktober 2010 di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Tema dari peringatan itu sendiri adalah “Aksara Membangun Keadaban dan Karakter Bangsa .</p>
<p style="text-align: justify;">Pendidikan keaksaraan dimungkinkan tidak sebatas penerapan Budaya Literasi (BUDAL), dengan pendidikan kewirausahaan menjadi unsur utama bagi pemenuhan akan outcome dari pendidikan keaksaraan itu tadi. Bukan berarti pendidikan kewirausahaan terlepas dari keberaksaraan, namun keduanya saling bersinergi. Sehingga muatan yang ada pada segi kewirausahaan dimasukkan dalam pendidikan keaksaraan, dengan begitulah Program Aksara Kewirausahaan akan dapat tercapai. Program pendidikan keaksaraan ini nantinya diintegrasikan dengan program kecakapan hidup, disamping keaksaraan dasar.</p>
<p style="text-align: justify;">Direktur Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal PNFI Ella Yulaelawati juga menyampaikan adanya Program Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM). Program keaksaraan diintegrasikan dengan pemberdayaan melalui seni budaya lokal dan cerita rakyat. Selain itu, pemberdayaan dilakukan dengan memperluas akses Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dengan pempublikasian koran desa, semacam jurnalisme desa yang dilatih untuk membuat korannya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata merdeka dari buta aksara akan lebih bermakna dengan konsep kewirausahaan dengan berbagai bentuk keterampilan yang diintegrasikan. Tidak hanya keterampilan semata, tetapi dibelajarkan dengan diberi modal dasar dan modalnya dari bantuan itu. Dan perlu diketahui, sebagaimana visi dari Ditjen PNFI adalah terwujudnya manusia Indonesia pembelajar sepanjang hayat dan yang salah satu misinya yaitu program pendidikan keaksaraan bermutu yang mampu meningkatkan kompetensi keaksaraan pada semua tingkatan (dasar, fungsional, dan lanjutan) bagi penduduk buta aksara dewasa secara meluas, adil, dan merata untuk mendorong perbaikan kesejahteraan dan produktivitas penduduk dan ikut serta dalam mendukung perbaikan peningkatan IPM.</p>
<p style="text-align: justify;">Demi tercapainya Program Rintisan Aksara Kewirausahaan ini, Kemdiknas telah menunjuk 100 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk melaksanakan program keaksaraan melalui kewirausahaan atau lebih simpel lagi dengan sebutan Aksara Kewirausahaan. Bantuan program rintisan ini sebanyak Rp 70 juta per lembaga. Nantinya bantuan ini memang selayaknya dikelola dan dipergunakan dengan sebaik dan sebenar-benarnya sesuai kebutuhan program yang diselenggarakan bagi masyarakat sesuai dengan target sasaran.</p>
<p style="text-align: justify;">By <a href="http://www.facebook.com/imadiklus#!/profile.php?id=100000107700426&amp;v=wall&amp;ref=sgm">Muarif</a> Untuk imadiklus.com</p>
<div class='wb_fb_comment'><br/></div><img src="http://www.imadiklus.com/?ak_action=api_record_view&id=2248&type=feed" alt=" Program Aksara sebagai Menu Pendidikan Keaksaraan"  title="Program Aksara sebagai Menu Pendidikan Keaksaraan" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.imadiklus.com/2010/09/program-aksara-sebagai-menu-pendidikan-keaksaraan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahan Ajar LITERASI PEMBUDAYAAN</title>
		<link>http://www.imadiklus.com/2010/09/bahan-ajar-literasi-pembudayaan.html</link>
		<comments>http://www.imadiklus.com/2010/09/bahan-ajar-literasi-pembudayaan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Sep 2010 01:40:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aqil</dc:creator>
				<category><![CDATA[KF]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadiklus.com/?p=2273</guid>
		<description><![CDATA[http://afdalsy.wordpress.com/2008/02/13/tips-membaca-yang-baik

http://padepokan-it.com/2010/01/27/arti-membaca]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong>INDAHNYA MEMBACA&#8230;..</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>KATA PENGENTAR</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Buku Bahan Ajar Literasi Pembudayaan Membaca bagi Tutor dalam menyelenggarakan Program Pendidikan Keaksaraan. Salah satu pertimbangan disusunnya buku bahan ajar ini adalah agar pembudayaan membaca dimasyarakat dapat terwujud dengan baik. Disamping itu juga sebagai upaya untuk mengajarkan kepada masyarakat bagaimana cara membaca yang baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku bahan ajar ini disusun secara sederhana, karena hanya berisikan hal-hal yang praktis dan mudah dimengerti sehingga dapat dengan mudah untuk dipelajari, dipahami, dan dipraktekkan oleh para pembaca.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Buku Bahan Ajar. Selanjutnya kami mohon kritik dan saran demi kesempurnaan buku ini.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Ungaran,     September 2010</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Pengertian</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Membaca merupakan salah satu di antara empat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) yang penting untuk dipelajari dan dikuasai oleh setiap orang. Dengan membaca, seseorang dapat bersantai, berinteraksi dengan perasaan dan pikiran, memperoleh informasi, dan meningkatkan ilmu pengetahuannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Membaca merupakan sarana yang tepat dalam pembelajaran sepanjang hayat. Dengan mengajarkan kepada anak cara membaca berarti memberi anak tersebut sebuah masa depan yaitu bagaimana cara mengekplorasi “dunia  mana pun yang dia pilih dan memberikan kesempatan untuk mendapatkan tujuan hidupnya.</p>
<p><strong>Persiapan Sebelum Membaca</strong></p>
<ol>
<li><strong>Pilihlah waktu yang menurut kita sesuai untuk membaca.</strong> Waktu yang sesuai disini adalah waktu dimana tidak terdapat gangguan, baik dari luar maupun dari dalam diri kita. Waktu yang sesuai disini hanya kita sendiri yang tahu kapan. Namun, sebagain besar orang percaya bahwa waktu yang baik untuk membaca, khususnya buku pelajaran, adalah di pagi hari.</li>
<li><strong>Pilihlah tempat dan suasana yang sesuai untuk membaca</strong>, yaitu tempat yang terang, sejuk, bersih, nyaman, tenang dan rapih menurut kita sendiri.</li>
<li><strong>Pastikan posisi membaca kita adalah posisi yang benar.</strong> Posisi yang benar pada waktu membaca adalah duduk dengan posisi badan tegak, tidak bungkuk, dan pastikan jarak antara buku dengan mata kita kurang lebih 30cm.</li>
<li><strong>Siapkan juga hal-hal yang biasanya membantu kita dalam membaca</strong>, seperti pensil atau spidol.</li>
<li>Ada<strong> baiknya sebelum belajar kita berdoa terlebih dahulu</strong> sesuai dengan kepercayaan masing-masing supaya ilmu yang kita dapat bermanfaat.</li>
</ol>
<p><strong>Terdapat 3 cara umum membaca di dalam kehidupan sehari-hari dilihat dari apa tujuan proses membaca tersebut.</strong></p>
<ol>
<li><strong>Membaca sebagai hiburan</strong> tanpa perlu memeras otak terlalu keras. Bacaan yang mengandung unsur hiburan disini contohnya novel, cerpen, komik, majalah ringan dll.</li>
<li><strong>Membaca untuk memperoleh ilmu pengetahuan </strong>yang tujuannya adalah mencari dan memahami ilmu yang terkandung dalam bacaan tersebut.</li>
<li><strong>Membaca kritis</strong>. Membaca disini sama dengan membaca untuk mencari ilmu. Namun membaca disini diikuti oleh proses menelaah isi bacaan tersebut, misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan apa itu?, mengapa bisa terjadi?, oleh siapa?, kapan?, dimana? dan bagaimana itu bisa terjadi? Dalam membaca kritis, kita membuat bacaan sebagai lawan yang harus dikalahkan dengan cara mengetahui dan memahami seluruh isinya.</li>
</ol>
<p><strong>Setelah Membaca</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Meninjau ulang</strong>. Merupakan langkah terakhir kita setelah membaca. Cobalah kita tutup dulu bukunya, kemudian pikirkan apa yang sudah didapat dari bacaan tersebut. Tuliskan hasil pikiran tersebut dalam secarik kertas, dan bandingkan dengan apa yang terdapat pada buku bacaan.</p>
<p><strong>Akibat tidak membaca</strong></p>
<ol>
<li>Ketika tidak membaca, seseorang akan masuk ke dalam kebodohan.</li>
<li>Tidak membaca membuat orang dekat dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja.</li>
<li>Tidak membaca, orang tidak bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.</li>
<li>Tidak   membaca, orang tidak bisa menguasai banyak kata dan tidak memahami apa yang tertulis “diantara baris demi baris  (memahami apa yang tersirat).</li>
</ol>
<p><strong>REFRENSI</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>http://afdalsy.wordpress.com/2008/02/13/tips-membaca-yang-baik</p>
<p>http://padepokan-it.com/2010/01/27/arti-membaca</p>
.makalah seminar pls pm pendidikan nonformal.<div class='wb_fb_comment'><br/></div><img src="http://www.imadiklus.com/?ak_action=api_record_view&id=2273&type=feed" alt=" Bahan Ajar LITERASI PEMBUDAYAAN"  title="Bahan Ajar LITERASI PEMBUDAYAAN" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.imadiklus.com/2010/09/bahan-ajar-literasi-pembudayaan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

